Prof Budi Indra Setiawan: ZROS untuk Mengatasi Banjir di Perkotaan, Perumahan dan Pertanian

Prof Budi Indra Setiawan: ZROS untuk Mengatasi Banjir di Perkotaan, Perumahan dan Pertanian

DSC_2640
Berita
Banjir sudah menjadi masalah rutin setiap tahun yang melanda Kota Jakarta dan juga kota-kota lainnya di Indonesia. Namun hingga saat ini sepertinya belum ada solusi yang tepat  untuk bisa menyelesaikan bencana tersebut. Penyebab banjir di suatu wilayah biasanya akibat curah hujan yang berintensitas tinggi yang tidak mampu dihalau melalui saluran drainase yang ada sehingga terjadi genangan air. Selain itu banjir juga bisa terjadi karena genangan air semakin bertambah tinggi dengan masuknya aliran air dari daerah hulu dan keterbatasan kemampuan lahan dalam meresapkan air ke dalam tanah.
 
Menurut Prof.Dr. Budi Indra Setiawan  dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB) menyampaikan bahwa pencegahan banjir di satu kawasan memerlukan perencanaan yang sistematis dan terpadu berdasarkan pada akurasi data yang harus diperhitungkan. Demikian disampaikan Prof Budi dalam suatu diskusi dengan wartawan terkait Hari Lingkungan Hidup  di Kampus IPB Dramaga, Rabu (4/6).
 
Selain itu dikatakannya, tindakan untuk mencegah banjir  juga tidak cukup hanya dilakukan di wilayah banjirnya saja tetapi juga harus menjangkau semua faktor penyebabnya. Sistem dan kapasitas jaringan drainase baik di perkotaan maupun di pemukiman seharusnya dirancang dan dibangun untuk mengantisipasi kemungkinan kejadian hujan harian, maksimum untuk periode ulang yang lebih panjang, misalnya 5 sampai 10 tahun.
 
Atas keprihatinannya terhadap masalah banjir,  Prof. Budi melahirkan konsep Zero Runoff System (ZROS) atau sistem limpasan air permukaan nol. ZROS bertujuan untuk meminimalkan limpasan air permukaan dan genangan air di satu kawasan sampai hilang seketika setelah hujan berhenti. Caranya dengan mengurangi arus air masuk dari sebelah hulu, menyerapkan air hujan masuk ke dalam tanah dan mencegah limpasan air permukaan  keluar dari kawasan tersebut.  
 
Ditambahkannya  bahwa Inti dari ZROS adalah bagaimana menyerapkan air hujan sebanyak mungkin ke dalam lapisan tanah secara terdistribusi melalui garis-garis air yang dikonstruksi di dalam kawasan tersebut. Pada garis-garis air tersebut, dalam interval tertentu dikonstruksi lubang-lubang resapan yang dimensi dan jumlahnya ditentukan berdasarkan persamaan neraca air.
 
Menurut Prof. Budi,  ZROS telah berhasil diterapkan di perkebunan buah belimbing di Kota Depok. Selain masalah banjir teratasi, produksi belimbing tahunan semakin meningkat, karena tanah menjadi lebih lembab pada saat musim kemarau. Selain itu konsep  ZROS  juga telah  selesai dikonstruksi di perkebunan pala di Aceh dan pemukiman penduduk di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidanau  belum lama ini.
 
Selanjutnya secara bertahap, ZROS akan dikembangkan lebih luas lagi ke berbagai kawasan yang mempunyai permasalahan banjir, genangan air, limpasan permukaan, dan erosi tanah. Termasuk untuk memanen air hujan di areal pertanian lahan kering, misalnya di wilayah timur Indonesia. (dh)