Lokakarya Program Vokasi

Lokakarya Program Vokasi

Berita
Guna mengembangkan pendidikan berbasis vokasi, perlu dibentuk lembaga pemerintah atau industri yang kredibel, yang fungsinya  melakukan ujian sertifikasi bagi lulusan pendidikan vokasi. Sertifikasi ini menjadi penting untuk menuju pasar tenaga kerja yang semakin terbuka, dan kampanye sistematis dan komprehensif tentang pendidikan vokasi yang menjadi alternatif  menarik ketika memasuki dunia kerja.
 
Pandangan tersebut disampaikan Managing Director Human Resources PT. SMART Tbk, Michael Adryanto, saat menjadi narasumber Lokakarya Nasional Program Vokasi, Senin (28/10), di Institut Pertanian Bogor (IPB) International Convention Center (IICC) Bogor, yang diselenggarakan Program Diploma IPB. Acara bertajuk "Membangun Pendidikan Tinggi Vokasi yang Berdaya Saing dalam Menyongsong AFTA 2014 dan AEC 2015" ini, dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor IPB Bidang Sumberdaya dan Kajian Strategis, Prof. Dr. Hermanto Siregar.
 
Melalui sertifikasi ini, tambah Michael, diyakini tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia memiliki kualifikasi yang memadai dan sesuai standar yang dimiliki industri di negara kita. Selain itu, memberikan kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia untuk berkompetisi dengan tenaga kerja asing dalam memenuhi kebutuhan pekerja terampil di negara lain.
 
Michael juga mengatakan, perlu dipertimbangkan untuk membangun “center of excellence” dalam pendidikan dunia industri yang dimotori oleh beberapa institusi pendidikan dan perusahaan. Center of excellece ini sendiri perlu melibatkan dan didukung pemerintah, untuk menetapkan kebutuhan tenaga lulusan spesifik di 3-10 tahun ke depan; lembaga pendidikan untuk mengembangkan kurikulum dan standar kompetensi; dan industri untuk memberikan masukan tentang mata ajaran yang dibutuhkan dan membantu pengajaran.
 
Pada sesi “Best Practice Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Vokasi yang Berdaya Saing”, hadir sebagai pembicara Direktur Program Diploma IPB, Prof. Dr. Zairin Junior, Direktur Politeknik Manufaktur Negeri Bandung, Prof. Dr. Isa Setiasyah Toha, dan Direktur Politeknik ATMI Surakarta, T. Agus Sriyono. (nm)