Impor produk hortikultura selama lima tahun terakhir meningkat. Rata-rata 21,63 persen untuk buah dan 14,97 persen untuk sayur. Rata-rata volume impor terhadap produksi nasional selama lima tahun terakhir sebesar 2,49 persen untuk buah dan 5,37 persen untuk sayur. Pada tahun lalu, impor buah dan sayuran Indonesia mencapai lebih dari Rp 17 trilyun. Besaran yang luar biasa. Ini melebihi nilai impor gandum, beras dan pangan lainnya.
“Tahun 2013-2017 adalah periode emas sekaligus periode kritis bagi hortikultura Indonesia. Akankah horikultura kita berjaya? Atau hortikultura kita hancur? Pada periode inilah penentuannya. Kalau kita gagal membangun hortikultura kita pada periode ini, kita akan menjadi pasar besar bagi komoditas hortikultura impor. Dan kalau itu sudah terjadi, akan sulit bagi kita untuk membalikkannya,” ujar Guru Besar Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Roedhy Purwanto dalam keynote speech-nya pada Kongres dan Seminar Ilmiah Tahunan Perhimpunan Hortikultura Indonesia di IPB International Convention Center, Rabu (9/10).
Kalau petani-petani hortikultura (petani kecil) dibiarkan berjuang sendiri untuk bersaing dengan produk hortikultura raksasa seperti Amerika, Australia ataupun Multi National Coporate (MNC), mereka tidak akan mampu bertahan. Menurut Prof. Roedhy, kita harus membangun sistem baru agribisnis hortikultura Indonesia dengan Good Agricultural Practice (GAP) dan memperpendek Suply Chain Management (SCM) agar bisa bersaing di era pasar global.
Untuk petani kecil, penerapan GAP ini tidak mudah, perlu dibentuk kebun percontohan, kemitraan, dan penguatan kelembagaan petani. Setelah alur GAP-nya terbentuk, dibutuhkan pendampingan dari “manajer profesional” yang membantu mengelola, dan mencarikan saluran khusus untuk pasar produk bermutu. Jika berhasil, ini akan menggeser sistem yang ada sekarang yakni sistem transaksional antara petani dengan tengkulak.
Sistem transaksional lebih menekankan harga murah, individualis dan oportunis. Biasanya banyak terjadi ketegangan antara petani dan tengkulak. Sering terjadi pula kecurangan. Sistem ini yang membuat hortikultura nasional menjadi seperti sekarang.
“Sistemnya harus dirubah dari transaksional menjadi tipe partnership. Dimana ada kolaborasi, transparansi, saling percaya, komitmen, terbuka, berbagi informasi dan nilai tambah. Kita tidak mungkin merubah sistem ini, tetapi kita bisa membuat sistem rantai yang baru. Petani tidak menjual sendiri-sendiri, tetapi berkelompok dan satu kata. Penjualan langsung ke penyalur hortikultura bermutu lanjut ke pemasok super market dan langsung ke super market/ retail/ekspor,” terangnya.
Prof. Roedhy mencontohkan rantai pasokan manggis di Leuwiliang. Awalnya hanya 5 persen dari total produksi yang bisa diekspor, kemudian setelah mendapatkan pendampingan dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKHT-LPPM-IPB), dengan perbaikan sistem dan mutu, 70 persen produksinya berhasil di ekspor.
Awalnya hanya bisa 5-10 kilogram per pohon. Setelah 2005, terbentuk kelompok tani manggis Karya Mekar dan produksi menjadi 40-50 kilogram per pohon dengan buah layak ekspornya 40-80 persen. Pemasarannya dari koperasi ke PT. Agung Mustika Selaras (AMS) dan langsung ekspor ke China. Ini memberikan perubahan yang nyata. Yakni merubah bentuk hubungan penjual dan pembeli dari lawan dagang menjadi kawan dagang. Dimana dibangun komitmen tidak saling menipu, ada kepercayaan, kesetiaan sehingga ada hubungan bisnis yang dinamis. “Ini tidak mudah perlu ada intervensi. Perlu ada lembaga pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau perusahaan atau swasta,” tuturnya.
Kegiatan yang diikuti akademisi dan praktisi hortikultura ini akan ditutup dengan kongres yang akan menentukan Ketua Perhimpunan Hortikultura Indonesia (Perhoti) periode 2013-2017.(zul)