Gejolak kekurangan bahan baku kedelai untuk industri tahu tempe mulai terasa di Indonesia pada tahun 2008, dan berulang tahun 2012, dan tahun 2013 ini. Harga kedelai naik dari Rp 6.500 per kilogram menjadi Rp 10 ribu per kilogram, dan ketersediaannya sangat sedikit sehingga pengrajin tahu tempe banyak menghentikan kegiatannya. Pemerintah selanjutnya menambah impor untuk memenuhi kebutuhannya.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian tengah berupaya meningkatkan kapasitas produksi kedelai lokal. Tetapi, hal itu tampaknya belum terwujud lantaran keterbatasan lahan di dalam negeri.
"Selama enam tahun terakhir, luas lahan pertanian menurun sebesar 0,06 persen," ujar Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan, Kementerian Pertanian, Sarsito Wahono Gaib Subroto dalam Diskusi bertajuk ‘Peluang dan Tantangan Pengembangan Kedelai Nasional’ yang digelar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Jakarta, Kamis (19/9).
Selain itu, pengembangan kedelai lokal juga terkendala produktivitas petani yang rendah. Hal ini dipicu oleh harga kedelai lokal yang tidak kompetitif dan murah. "Selama tiga tahun terakhir, produksi menurun karena harga membuat mereka tidak bersemangat untuk menanam kedelai," terang Gaib.
Keadaan ini merugikan petani jika berjalan terus menerus, karena akan menurunkan daya saing harga kedelai lokal. Oleh karena itu, perlu upaya ketersediaan kedelai melalui peningkatan produksi dalam negeri dengan menambah luas areal tanam.
Permasalahan luas areal tanam yang semakin sempit tersebut pada dasarnya sudah terjawab sebagimana dikatakan oleh Pakar Kedelai Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr.Ir. Munif Ghulamahdi. Prof.Munif memaparkan melalui penelitiannya bahwa penambahan luas areal tanam perlu diarahkan ke luar Jawa yakni ke lahan sub optimal dan salah satunya adalah lahan pasang surut.
Menurut Prof.Munif, luas lahan pasang surut di Indonesia sekitar 20,1 juta hektar dan 9,53 juta hektar berpotensi dijadikan lahan pertanian, serta 2 juta hektar cocok ditanami kedelai . Rendahnya produktivitas kedelai di lahan pasang surut selama ini disebabkan oleh teknologi budidaya konvensional yang tidak mampu mengatasi tingginya kadar senyawa kimia pirit, almunium (Al), besi (Fe), dan mangan (Mn) serta rendahnya ketersediaan hara fospor (P) dan Kalium (K). “Adanya teknologi budidaya jenuh air (BJA) dapat menekan kadar pirit, karena kadarnya sudah direduksi,” katanya.
Menurutnya, budidaya jenuh air adalah penanaman kedelai dengan memberikan irigasi terus-menerus sejak tanam sampai panen, dan membuat tinggi muka air tetap, sehingga lapisan di bawah perakaran jenuh air. Kedalaman muka air di saluran 20 centimeter dari permukaan tanah memberikan produktivitas varietas Tanggamus yang konsisten tinggi selama lima tahun sebesar 4,63 ton per hektar. Kegiatan ini telah dilakukan di Desa Banyu Urip, KecamatanTanjung Lago, Kabupaten Banyu Asin, Provinsi Sumatera Selatan sejak tahun 2009-2013 dan dilakukan di Desa Harjosari, Kecamatan Braja Selabah, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung sejak tahun 2012-2013. “Kegiatan penelitian ini melibatkan mahasiswa S1, S2 dan S3 yang ditempatkan di lapangan sejak persiapan lahan sampai panen,” ujarnya
Prof.Munif juga mengatakan, kondisi kawasan transmigrasi pada lahan pasang surut sesuai untuk pengembangan massal teknologi BJA untuk meningkatkan produktivitas kedelai tinggi. Produktivitas kedelai rata-rata nasional hanya 1,3 ton per hektar dan di penelitian BJA pasang surut dapat mencapai 4,63 ton per hektar.
“Jika Varietas Tanggamus dengan produktivitas di penelitian sekitar 4,63 ton per hektar pada BJA di lahan pasang surut, dan setelah didesiminasikan langsung ke petani diperoleh hasil 60 persen dari hasil penelitian, maka produktivitas masih tercapai 2,7 ton per hektar. Jika pada tahun 2015, Indonesia membutuhkan kedelai 2,4 juta ton dengan produksi nasional 0,7 juta ton, maka kekurangan 1,7 juta ton. Kekurangan ini dapat dipenuhi dengan mengelola areal lahan pasang surut sekitar 630 ribu hektar. Dukungan pengadaan benih kedelai berkualitas tinggi sangat diperlukan, dan dengan kebutuhan benih 50 kilogram per hektar, maka untuk mencukupinya diperlukan 31,5 ribu ton benih kedelai. Perlu adanya penambahan penangkar-penangkar benih di setiap provinsi yang mempunyai lahan pasang surut dengan sistem ”JABALSIM” (Jalur Benih Antar Lapang Antar Musim),” katanya.
Diskusi yang menghadirkan nara sumber diantaranya: Sarsito Wahono Gaib Subroto (Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan, Kementerian Pertanian), Dr. Munif Ghulamahdi (Peneliti Kedelai IPB), dan Johanda Fadil (Sekjen Himpunan Perajin Tahu Tempe Indonesia) ini dimoderatori Afan Anugroho. (man)