IPB Siap Memberi Solusi Untuk Swasembada Kedelai Nasional

IPB Siap Memberi Solusi Untuk Swasembada Kedelai Nasional

Berita
Bangsa Indonesia pada saat ini menghadapi persoalan krusial terkait krisis pangan, energi, lingkungan, kesehatan dan kemiskinan. Krisis pangan akan menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia apabila produksi pangan jauh di bawah kebutuhan nasional. Ketergantungan terhadap beberapa komoditas pangan impor sering berdampak pada kelangkaan dan kenaikan harga di pasar dalam negeri. Pemenuhan kebutuhan pangan harus menjadi prioritas utama karena jumlah penduduk semakin besar, dan terjadinya perubahan iklim.
 
Berbagai permasalahan tersebut sesungguhnya dapat diselesaikan melalui pembangunan pertanian. Oleh karena itu, IPB berperan menjadi penggerak prima dalam pengarusutamaan pertanian. Peran dan kontribusi IPB dalam menjawab permasalahan bangsa direalisasikan dengan mengintensifkan outcomes dan impactsprogram-program IPB sebagai multiplier effects yang memperkuat sistem produksi pangan dan bioenergi nasional, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, mengentaskan kemiskinan, dan memperbaiki mutu lingkungan hidup.
Kekayaan biodiversitas dan kearifan lokal tetap dijadikan sebagai driving force pembangunan ekonomi dan pengembangan bisnis. Mengingat masih adanya kesenjangan ekonomi yang cukup tajam pada saat ini, maka selain menjadi penghasil inovasi, IPB terus berperan menjadi jembatan inovasi yang dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing usaha pada satu sisi, tetapi juga menjamin pemerataan kesejahteraan pada sisi yang lain. IPB akan terus menghasilkan lulusan yang memiliki semangat kejuangan yang tinggi dalam mengembangkan usaha ekonomi dan masyarakat berbasis pertanian dalam arti luas.
 
“Pengarusutamaan pertanian dimaksudkan memposisikan sektor pertanian ke dalam sistem perencanaan dan praksis inter sektor pembangunan untuk memastikan pertanian terintegrasi menjadi strategi dan penentu keberhasilan pembangunan nasional. Hal ini menjadi salah satu isu utama dalam Rencana Strategis IPB ke depan” ujar Dr. D. Iwan Riswandi, Direktur Perencanaan dan Pengembangan IPB.
 
Salah satu tantangan yang harus dijawab adalah persoalan kedelai yang selalu menghantui masyarakat Indonesia. Sebagaimana dikatakan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI bahwa kebutuhan kedelai secara nasional sebanyak 70% dipasok dari impor khususnya dari AS.  Menurutnya, setiap tahun Indonesia butuh 2,5 juta ton kedelai, sebanyak 1,7 juta ton masih dipasok dari kedelai impor sisanya dari petani lokal.
Indonesia saat ini hanya mampu memproduksi hingga 800.000 ton kedelai per tahun. Sisanya atau sebanyak 1,7 juta ton harus didatangkan dari luar negeri seperti AS.
Salah satu inovasi IPB adalah dalam bidang penelitian kedelai. Tantangan pengembangan kedelai di Indonesia sebagian telah coba dijawab oleh IPB, dalam berbagai penelitian yang dilakukan pada penambahan luas area tanam dan bibit unggul. Untuk mengkaji kemungkinan penambahan luas areal tanam kedelai, telah dilakukan penelitian untuk menjadikan lahan pasang surut sebagai tambahan areal untuk tanaman kedelai.
 
Hal ini diharapkan dapat mengurangi kemungkinan penurunan areal tanam jagung dan palawija lain karena perluasan areal tanam kedelai. Mengingat potensi lahan kering di tanah air yang masih belum dimanfaatkan secara optimal terutama tanah asam maka sebagai kelanjutan dari penelitian-penelitian sebelumnya, IPB juga telah mengembangkan formula inokulan bakteri bintil akar untuk peningkatan produksi kedelai pada lahan kering asam (pH 4,0).
Dengan memanfaatkan inokulan tersebut, lahan kering asam dapat ditanami kedelai dengan produktifitas yang tinggi dan penggunaan pupuk nitrogen dapat dikurangi 50% (Rachmania et al., 2011). Selain itu, telah dikembangkan juga galur varietas unggul kedelai yang mirip kedelai impor yang disukai perajin tempe. Pada saat ini telah ada lima galur kedelai yang produktivitasnya di atas varietas Anjasmoro yang digunakan sebagai pembanding karena produktivitasnya tinggi (2,59 ton/ha) dan berbiji besar. Dari lima galur kedelai tersebut dua galur kedelai tercatat mencapai produktivitas 2,94 ton/ha (Suharsono, 2012).
 
Bukan hanya sampai disitu, beberapa alternatif pun dilakukan oleh peneliti IPB seperti apa yang dilakukan oleh peneliti pada Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Ir Arif Hartoyo, MSi (alm). Dr. Arif mengatakan kacang komak (Lablab purpureus, L sweet) berpotensi untuk dijadikan pangan alternatif pengganti kedelai yang  harganya sering melambung, dengan kandungan gizi tidak jauh berbeda dan harga lebih murah.  Produktivitas kacang komak sangat tinggi karena komoditas ini merupakan tanaman tropis sedangkan kedelai merupakan tanaman subtropis.
Untuk meningkatkan dana pengembangan riset sehingga hasil-hasil penelitian dari perguruan tinggi bisa diaplikasikan ke masyarakat membutuhkan dana yang tidak sedikit.  Terkadang sebuah perguruan tinggi seperti IPB menghadapi kendala keterbatasan dana untuk melakukan uji multi-lokasi untuk hasil riset mengenai varietas kedelai, sehingga sampai saat ini hasil penelitian tersebut belum bisa diaplikasikan di lapangan.
 
Berbagai hal tersebut sekiranya menunjukkan bahwa pengembangan komoditas kedelai di Indonesia masih sangat mungkin dilakukan. Perlu ada kerjasama dari berbagai pemangku kepentingan, baik petani, swasta, perguruan tinggi, pemerintah dan industri, untuk dapat mewujudkan sistem produksi kedelai yang kuat.
Untuk mencari solusi bersama terkait permasalahan ini maka IPB bekerjasama dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) melalui Forum Dialog mengadakan kegiatan mengangkat dengan tema “Peluang dan Tantangan Pengembangan Kedelai Nasional”, Kamis, (19/9) di HIPMI Center, Kuningan,  Jakarta.
Dengan nara sumber, Diah Maulida (Deputi Bidang Pangan Menko Perekonomian),Dr. Munif Ghulamahdi (Peneliti Kedelai, IPB), Ir. Udhoro Kasih Anggoro (Dirjen Tanaman Pangan), Maurits Daniel Rudolf Lalisang (Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk.), dengan Moderator Afan Anugroho.