Baru 15% Fungi Terdata dari 1,5 Juta Fungi di Dunia

Baru 15% Fungi Terdata dari 1,5 Juta Fungi di Dunia

Berita
Bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang jatuh pada 9 September, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) membuka International Symposium on Tropical Fungi di IICC (10/9). Peserta simposium yang digelar dalam rangkaian Dies Natalis IPB ke-50 ini adalah peneliti-peneliti Mikologi dari berbagai negara diiantaranya Indonesia, Jepang, India, USA, Malaysia, Australia, Kenya, Irak. Fungi hidup berdampingan dengan manusia di planet ini. Fakta ini hanya memberikan kita satu pilihan yaitu bagaimana mengatur mereka (fungi) untuk meminimalisasi dampak negatifnya dan mengoptimalkan sisi positifnya. “Simposium ini diharapkan akan menjadi penerang untuk mengarahkan kita dalam meraih tujuan-tujuan di atas,” ujar Rektor.
 
Bagi Indonesia, kondisi iklim tropis dimana lingkungannya tidak mudah berubah secara ekstrim dari hari ke hari dan keragaman fungi yang dimiliki akan memberikan tantangan spesial (peluang) untuk mengarahkan kita dalam mengerti lebih baik tentang organisme ini.
 
“Ini akan menjadi tantangan yang menarik untuk kita dalam mendalami biodiversitas dan aturan hidup dari fungi untuk kelangsungan hidup kita,” ujar Dr. Widodo, staf pengajar IPB yang juga Ketua Panitia simposium ini.
 
Sementara itu, menurut Dr. Amy Y Rossman (USA), dalam keynote speechnya, kerugian di bidang pertanian akibat serangan fungi diperkirakan mencapai $23,5 Milyar tiap tahunnya. Sedangkan saat ini peneliti-peneliti di dunia baru bisa mengidentifikasi 10-15% dari 1,5 juta fungi yang diperkirakan tersebar di berbagai ekosistem. “Sehingga penelitian fungi menjadi penting bagi negara kami di USA. Salah satunya dengan menentukan nama-nama yang tepat untuk fungi dan cara untuk mengetahui keberadaannya. Fungi yang mempunyai dampak buruk bagi tanaman, penamaannya harus bisa menunjukkan dampaknya terhadap tanaman yang diserang,” ujar peneliti di Systematic Mycology & Microbiology Laboratory, USDA.
 
Dalam kesempatan yang sama, peneliti Jepang Prof. Susumu Takamatsu dari Mie University  memaparkan dahyatnya penyakit powdery mildew yang disebabkan oleh fungi bernama powdery mildews. Penyakit ini telah menyerang lebih dari 10 ribu spesies tanaman angiosprem.(zul)