Kepala BIN RI: Netralitas Kampus Harus Dijaga untuk Meredam Radikalisasi

Kepala BIN RI: Netralitas Kampus Harus Dijaga untuk Meredam Radikalisasi

Berita
Kepala Badan Intelijen Nasional Republik Indonesia, Letnan Jenderal (TNI) Marciano Norman mengatakan netralisasi kampus harus tetap terjaga untuk meredam aksi radikalisme maupun kekerasan yang dilakukan mahasiswa. “Hendaknya kita tetap menjaga independensi kampus agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, untuk melakukan provokasi pada mahasiswa dengan tujuan mendorong mereka melakukan aksi massa dan gerakan kekerasan yang merugikan bangsa,” tegas Marciano saat memberikan sambutan dalam Sarasehan Nasional Rektor/Pimpinan Perguruan Tinggi bertajuk ‘Strategi Pengelolaan Potensi Konflik Mahasiswa Menjadi Resolusi Alternatif dan Pemberdayaan yang Produktif’, Jum’at (26/4) di Institut Pertanian Bogor (IPB) International Convention Center (IICC). Kegiatan yang diselenggarakan Center for Alternative Dispute Resolution and Empowermen (CARE) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB ini dihadiri pimpinan atau perwakilan 27 perguruan tinggi se-Indonesia.
 
Diakui Marciano, mahasiswa mempunyai energi besar yang memerlukan tempat penyaluran positif.  Lembaga kampus diharapkan menjadi tempat menggantungkan harapan penyaluran energi positif mahasiswa. “Di kampuslah kami berharap mahasiswa memupuk jiwa kepemimpinan dan intelektualitas akademisnya. Namun kampus juga membutuhkan good will  dari semua pihak khususnya dari pemerintah  agar lebih kondusif bagi kiprah mahasiswa,” kata Marciano. Tentu dalam upaya meredam radikalisasi tidak bisa dilakukan kebijakan normalisasi kampus seperti masa lalu. Oleh karenanya, dalam pertemuan ini akan dirumuskan kebijakan yang tepat untuk menjaga independensi kampus tanpa mengurangi aktivitas ekstrakurikuler mahasiswa maupun kegiatan lain di luar kampus.  
 
Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama IPB, Prof.Dr.Ir.Anas Miftah Fauzi mengatakan sejarah mencatat perjuangan mahasiswa dan pemuda dalam menyatukan komponen bangsa dalam sumpah pemuda, menggusur Orde Lama, hingga mengusung bendera reformasi. Haruskah citra tersebut hilang hanya dikarenakan sikap anarkisme atas nama solidaritas, perbedaan ego atau pun kepentingan yang membawa sikap skeptis masyarakat terhadap mahasiswa maupun perguruan tinggi.  “Perlu upaya untuk menyeimbangkan kembali ketinggian ilmu dan dalam ketaatan pada Tuhan yang dimanifestasikan dalam hubungan sosial. Melalui pertemuan ini, hasil sharing pengalaman dan pemikiran perguruan tinggi hari ini mampu mendapatkan rumusan pemikiran untuk menjawab seluruh permasalahan  yang terkait pengelolaan konflik mahasiswa energi positif yang mampu membawa perubahan lebih baik,” tandas Prof.Anas. (ris)