Produce Business di Indonesia
Bisnis buah dan sayur (Produce Business) adalah sebuah industri yang harus dikelola secara terintegrasi dan lintas sektoral agar bisa berkembang dengan baik. “Produce business bisa menjadi daya saing Indonesia di masa sekarang atau masa mendatang bila dikelola secara baikl,” ujar Praktisi Produce Business, Budiharjo dalam acara Stu ium Generale Alumni Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (Dept.TIN-FATETA-IPB), Rabu (6/6) di Kampus IPB Darmaga.
Hal ini karena Indonesia memiliki kesuburan alam dan kekayaan hayati yang besar. Keberhasilan pengelolaan produce business sebagai suatu industri (agroindustri) diharapkan menjadi salah satu solusi mengurangi pengangguran, meningkatkan pendapatan petani dan menekan urbanisasi.
Menurut Budiharjo yang juga Alumni Dept.TIN-Fateta- IPB, pengurangan impor komoditas hortikultura (buah-buahan dan sayur-mayur) akan terjadi dengan sendirinya, bila produk substitusi telah tersedia dan memenuhi kriteria yang dikehendaki konsumen. Pengurangan yang dimaksud terjadi dengan cara meningkatkan laju pertumbuhan konsumsi buah nusantara agar lebih besar dari konsumsi buah impor. “Yakinlah, bekerja untuk menghasilkan produk berkualitas disertai dengan program pemasaran produk yang efektif, akan jauh lebih efektif dalam meningkatkan konsumsi volume buah nusantara, tanpa harus mengganggu stabilitas tata niaga ‘produce business’ yang ada saat ini,” kata Pengusaha Ekspor Buah Salak ini.
Pengelolaan ‘produce business’ hendaknya memanfaatkan potensi dalam negeri dan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) secara optimal serta saling dukung antar pelaku bisnis. Usaha-usaha pengembangan buah dan sayur hendaknya tidak bisa bersifat parsial dan dilakukan secara sendiri-sendiri antar pelaku usaha.
Mencermati kondisi ‘produce business’ saat ini, kata Budiharjo, perlu dilakukan evaluasi bersama karena hubungan antar pelaku ‘produce business’ sebagian masih hanya bersifat transaksional, sehingga nilai-nilai, etika dan komitmen sering terabaikan. Pada pola hubungan seperti ini akan ada superioritas salah satu pihak terhadap pihak lainnya dan seringkali ‘produsen’ (petani) diposisikan sebagai pihak yang dirugikan, ataupun sebaliknya.
Selain itu, keterbatasan kemampuan para pelaku usaha mengakibatkan para pelaku ‘produce business’ jarang melakukan pengukuran pasar secara spesifik untuk produk buah dan sayur sebagai dasar dalam pengembangan usaha. Keterdesakan daya saing antar pelaku atau dengan komoditas impor dijawab dengan sejumlah regulasi yang masih perlu dipertanyakan keefektifan pencapaian tujuan regulasi tersebut. “Kegagalan implementasi suatu regulasi bukan hanya gagalnya pencapaian tujuan, tapi juga berdampak pada stabilitas ‘produce businbess’ yang sebenarnya justru merugikan konsumen Indonesia,” tandas Budiharjo. Kegiatan yang dihadiri seluruh mahasiswa Dept.TIN-IPB ini dimoderatori Staf Pengajar Dept.TIN, IPB, Dr.Aji Hermawan. (ris)
