Komitmen Praktisi dan Pengusaha Bisa Tekan Impor Produk Hortikultura

Komitmen Praktisi dan Pengusaha Bisa Tekan Impor Produk Hortikultura

Berita

Impor produk hortikultura Indonesia setiap tahun bertambah 10 persen, tahun lalu sebesar Rp 1,4 juta ton dan meningkat 1,6 juta ton dengan nilai mencapai Rp 7,3 trilyun. Yang disayangkan Dewan Hortikultura Nasional (DHN), Gun Soetopo masih banyak ditemukan  produk hortikultura impor yang tercemar pestisida tinggi. “ Sepuluh jenis buah dan sayur yang paling tercemar pestisida tinggi : strawberry, apel, bayam, kentang, buah ceri, anggur, paprika manis, buah persik, seledri, dan blueberry. Di Amerika buah-buahan ini diakui mengandung pestisida tinggi,” kata Gun, begitu pria hobi bertopi putih ini biasa disapa dalam acara  Seminar Prospek Bisnis Hortikultura Bagi Pariwisata Indonesia, Jum’at (30/3) di Jakarta Convention Center (JCC). Seminar ini merupakan bagian rangkaian The 6th Agrinex Expo 2012 ‘Agribusiness for All’ yang diselenggarakan berkat kerjasama antara Institut Pertanian Bogor (IPB), Performax dan Kementerian Pertanian.

Ini menjadi tantangan bersama bagi para praktisi hortikultura dan pengusaha hotel atau restoran dalam negeri. “Perlu kerjasama antara pengusaha hotel dan restoran  praktisi hortikultura lokal untuk berkomitmen mengurangi dan tidak menggunakan produk  hortikultura impor yang banyak tercemar pestisida. Hal ini akan menambah kepercayaan konsumen, membangkitkan hortikultura Indonesia agar lebih maju dan berkembang/mensejahterakan petani yang akan meningkatkan income rakyat Indonesia,” papar Gun.

Sebagai praktisi hortikultura, Gun sudah makan asam garam dalam budidaya sayur dan buah-buahan. Gun berusaha mensiasati produk hortikultura hasil kebunnya rendah residu, sesuai keinginan konsumen dan tentu saja harganya yang lebih tinggi dari harga pasaran. Misalnya buah naga, saat Gun menawarkannya pada konsumen, mereka kurang suka karena rasanya hambar dan agak asam. Gun kemudian melakukan berbagai percobaan sehingga diperoleh buah naga yang manis. “Buah naga saya sekarang sangat diminati konsumen. Harga Rp 20 ribu per kilogram dibeli, bahkan Rp 50 ribu per kilogram pun habis dibeli, sementara buah naga pedagang seharga Rp 10 ribu tidak laku,” ujar Gun.

Untuk mendekati pasar dan memperkenalkan buah naga, mulanya Gun menjual produk hortikultura yang diinginkan konsumen di masing-masing wilayah seperti di Magelang lebih menyukai anggur, di Malang lebih menyukai apel, dan sebagainya. Setelah sekian lama, konsumen membeli produknya, mereka merasa tidak enak hati dan menanyakan buah naga untuk dibeli.

Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) Angkatan 14 ini juga dikenal bertangan dingin. Dengan sentuhan teknologi, Gun bisa menyulap lahan cadas, kering tak berair dan tak subur di berbagai daerah menjadi lahan produktif. “Kadang kita terkungkung pikiran bahwa menanam tanaman hortikultura harus di lahan subur. Itu salah. Bagi saya terpenting di suatu lahan masih ada angin, maka bisa ditanam. Tak masalah jika kurang air,” tuturnya.

Untuk menggiatkan  usaha hortikultura dan pariwisata, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sapta Nirwandar mengatakan perlu kerjasama juga antara praktisi hortikultura, wirausahawan di bidang pariwisata, Kementerian Pertanian dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk membuat even-even budaya atau pesta rakyat juga bisa dijadikan sebagai penarik wisata yang digabung saat panen buat atau sayur lokal. “Di negara maju pengusaha hortikultura sengaja menyelenggarakan wisata memanen buah. Satu sisi cost panennya berkurang, sisi lain pendapatannya pun naik,” kata Sapta.  Diperlukan juga terobosan mempromosikan produk herbal, minuman dan kecantikan yang dijadikan buah tangan atau oleh-oleh ke luar negeri. Tentu syaratnya produk herbal ini berkualitas tinggi, kemasan baik dan standarnya internasional atau berdasar masing-masing negara.

Dalam kesempatan itu pula, Wakil Ketua Umum  Hotel Restoran Indonesia (PHRI), Riyanto Sofyan menambahkan pelaku industri pariwisata dan pelaku usaha hortikultura dapat saling bersinergi dalam mengembangkan usahanya masing-masing, karena pada hakekatnya saling membutuhkan dalam meningkatkan keunggulan komparatif produk, usaha masing-masing. “Perlu disinergikan keberpihakan pemerintah, pengusaha retail, dan para pihak lainnya terkait dalam membangun brand equity hortikultura Indonesia untuk menunjang pariwisata, perdagangan dan investasi,” tandasnya. (ris)