IPB Mengejar Rangking Dunia Melalui Jalan Yang Sah dan Halal
Webometrics merupakan indikator pembanding dalam standar publikasi tingkat internasional yang dimulai pada tahun 2004. Webometrics telah mengklasifikasikan lebih dari 20 ribu universitas di dunia dengan pemeringkatan berdasarkan perhitungan paper akademik dan dampaknya melalui visibilitas dari konten yang ditampilkan.
Untuk meningkatkan pemahaman mengenai webometrics di kalangan luas, IPB telah menggelar Workshop Pemeringkatan Web Institusi di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga (28/2) dengan mendatangkan Dr (h.c) Isidro F Aguillo, penggagas webometric dari The Cybermetric Lab (CSIC) Spanyol.
Kedatangan Dr. Isidro ke IPB tidak disia-siakan begitu saja. Di hari keduanya di IPB, Dr. Isidro mengisi acara seminar internal dengan peserta kepala unit dan penanggung jawab web unit di IPB.
Kegiatan ini tidak semata-mata ditujukan untuk meningkatkan ranking IPB, namun untuk mengetahui bagaimana mempublikasikan repository maupun hasil-hasil penelitian dengan baik dan benar.
“Kami konsen pada aktivitas dan dampak dari pendidikan yang bisa dipublikasikan. Bukan semata pada pemeringkatannya. Dengan adanya kegiatan ini kami ingin mengetahui bagaimana mempublikasikan aktivitas kami dengan sah dan halal. Hal ini dilakukan agar IPB terhindar dari memanipulasi data demi mengejar ranking,” ujar Wakil Rektor Bidang Bisnis dan Komunikasi, Dr. Ir. Arif Imam Soeroso.
Dalam kesempatan ini, Dr. Arif menampilkan data peningkatan publikasi IPB. Pada tahun 2008, posisi IPB pada urutan ke 2400 dunia. Melalui berbagai upaya dan kegiatan yang dipublikasikan, pada Februari 2012 posisi IPB naik pada urutan ke 1024 dunia.
Dari data yang disampaikan Dr. Isidro, Universitas Harvard masih memegang posisi puncak. Diikuti Massachusetts Institute of Technology di urutan kedua dan Stanford University di urutan ketiga.
Dr. Isidro mengatakan kebanyakan hasil-hasil penelitian di Indonesia tidak dipublikasikan pada jurnal internasional yang prestisius. Pembacanya pun pada umumnya lokal dan tidak didekatkan kepada pembaca internasional.
“Agar lebih popular, perbanyak links dan full text serta perbaiki kinerja dari servernya. Selain itu, IPB bisa kerjasama dengan institusi lain khususnya dengan sekolah medis. Selain itu juga bisa dengan mengubah nama dan jaringan dari ilmu pertanian menjadi ilmu lingkungan atau biodiversiti dan perubahan global. Namun yang paling penting adalah perbanyak melakukan penelitian serta insentifnya dan publikasikan,” ujarnya.
Sehari sebelumnya dalam Seminar Nasional Webometric di Internasional Convention Center (IICC), Dr. Isidro mengatakan sebagian besar web yang ada di Indonesia masih harus diperbaiki terutama pada kualitas isi.
“Ini adalah bagian terbaik dari website. Repositori dikhususkan untuk menpublikasikan hasil-hasil penelitian mungkin ini adalah bagian yang harus ditingkatkan. Dan perlu dipertimbangkan publikasi di tingkat internasional dan tidak hanya lokal saja. Karena ini akan memberikan dampak yang bagus di jenjang internasional,” ujarnya.
Sebelumnya selaku Ketua Panitia, Prof. Kudang Boro Seminar mengatakan bahwa acara ini digelar karena IPB ingin tahu bagaimana inisiatif atau ide-ide tentang membuka akses ilmu pengetahuan melalui sumbernya langsung agar bisa dibagi kepada masyarakat luas.(zul)
