Sebanyak 90 Persen Obat Indonesia Masih Impor
Masih banyak Rumah Sakit di Indonesia yang masih mengimpor obat-obatan. Hampir 90 persen dari total kebutuhan obat Indonesia dipasok dari luar negeri. Hal ini disampaikan Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Prof. Dr. H. Ervizal AM Zuhud dalam acara Coffee Morning (17/11) di Kampus IPB Baranang Siang.
Prof. Amzu demikian beliau biasa disapa mengatakan, omset penjualan obat modern farmasi impor setiap tahun di Indonesia terus meningkat. “Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari-Juni 2011, nilai impor pangan Indonesia sudah mencapai setara dengan 45 triliun rupiah. Untuk obat-obatan mencapai Rp 35 triliun. Hal ini terjadi karena kebijakan pemerintah tidak pro rakyat,” ujar Prof. Amzu.
Menurut Prof. Amzu, hutan tropika Indonesia terdiri dari berbagai tipe ekosistem yang memiliki lebih dari 239 jenis tumbuhan pangan dan lebih dari 2.039 jenis tumbuhan obat untuk menyehatkan dan mengobati berbagai macam penyakit manusia dan ternak. “Sudah sepatutnya hutan ke depan dibangun dan dikelola bersama masyarakat tani hutan untuk menghasilkan multi-produk, baik kayu maupun non-kayu, termasuk komoditi pangan dan obat hutan, yang pelaku utamanya petani lokal,” tandas Prof. Amzu.
Berdasarkan data statistik Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), jumlah desa di Indonesia sebanyak 73.067 desa, 50 persennya berada di dalam dan di sekitar kawasan hutan dan dihuni lebih dari 550 etnis.
“Orasi ilmiah saya ini mengemukakan konsep pengembangan kampung atau desa konservasi hutan keanekaragaman hayati pangan dan obat dengan sudut pandang berbasis kemandirian masyarakat kecil-lokal pada unit desa-kampung,” jelasnya.
Sejarah dan fakta membuktikan, konsep kampung atau desa konservasi ini dapat mendukung kedaulatan pangan dan obat keluarga (POGA) desa di Indonesia, juga sangat potensial menahan dampak ancaman krisis baru ekonomi dunia di era globalisasi.
Setiap kawasan hutan alam, ujar Prof.Amzu, termasuk kawasan taman nasional tersedia bahan baku obat untuk berbagai macam penyakit yang diderita masyarakat. Selain itu juga telah terbangun sistem pengetahuan lokal berupa etno-wanafarma (ethno-forest pharmacy) secara turun temurun di sana. Lebih lanjut Prof.Amzu menguraikan perkembangan ramuan jamu atau obat tradisional bukan berlandaskan sainstifik gaya ilmu farmasi Barat, tetapi sepenuhnya berdasarkan empiris yang teruji melalui trial and error secara turun temurun.
“Hal ini juga dapat kita sebut dengan etno-wanafarma (ethno-forest pharmacy). Fakta ini tidak perlu kita tutupi. Apalagi dipertentangkan dengan metoda konvensional farmasi Barat. Karena empiris bukan sesuatu yang aib atau selalu keliru, seperti halnya metodologi ilmiah farmasi Barat belum tentu selalu baik dan benar,” tegas Pria yang sudah 25 tahun lebih mengkaji etnobotani.
Program saintifikasi jamu yang saat ini sedang dikembangkan perlu dilakukan penyederhanaan dan penyempurnaan metodologi, agar bebas dari belenggu metodologi farmasi barat . Sebab hal ini, tandas Prof. Amzu, mustahil bisa disamakan. Di samping agar obat tradisional atau jamu dapat segera digunakan sebagai obat untuk pelayanan kesehatan formal masyarakat.
Prof. Amzu kemudian menuturkan pengalaman empiris pada awal 2011 ini yakni banyak masyarakat Indonesia yang menderita penyakit kanker dapat disembuhkan dengan minum ekstrak rebusan daun sirsak (Annona muricata). “Banyak masyarakat sembuh dan sekaligus menghemat uang tanpa terapi khemoterapi yang mahal dan efek samping yang tidak kecil,” imbuhnya.
Contoh lain, masyarakat hutan diketahui sudah lama menggunakan akar kuning (Arcangelesia flava) untuk mengobati penyakit kuning (penyakit liver atau hepatitis). Berbekal pengetahuan ini, Pusat Studi Biofarmaka (PSB) IPB kemudian meneliti khasiatnya. Walhasil, tahun 2011 ini PSB IPB telah mendapatkan paten untuk akar kuning sebagai hepaprotektor yang kuat. (ris)
