INAFOR, Forum Internasional Tukar Informasi Ilmiah Kehutanan
Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia berinisiatif menyelenggarakan The International Conference of Indonesia Forestry Researches (INAFOR) dengan tema Strengthening Forest Science and Technology for Better Forestry Development, (5/11).
“Pertemuan ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan tukar menukar informasi ilmiah hasil penelitian, dan berbagi pengalaman dalam pelaksanaan kegiatan penelitiaan, serta memberikan pengalaman internasional di sektor kehutanan dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengambil bagian pada forum-forum ilmiah internasional, khususnya International Union on Forestry Research Organization (IUFRO) World Congress,” papar Kabalitbanghut, Dr.Ir.Tachrir Fathoni, M.Sc.
Acara INAFOR ini akan dilakukan secara berkala setiap 2 tahun dan menjadi puncak pertemuan peneliti kehutanan yang paling bergengsi di Indonesia. “Bagi komunitas ilmiah kehutanan internasional, acara ini akan merupakan barometer status terkini kemajuan IPTEK kehutanan Indonesia yang menjadi bagian penting dalam kancah IPTEK khususnya bidang kehutanan di internasional,”tegas Dr.Tachrir.
Menteri Kehutanan, H. Zulkifli Hasan SE, MM menambahkan forum ini juga diharapkan mengakumulasi hasil-hasil inovasi peneliti kehutanan sehingga bisa di diseminasikan ke masyarakat. “Selama ini saya menyayangkan masih banyak hasil penelitian yang hanya bisa dinikmati oleh penelitinya saja, namun tidak dapat diaplikasikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Zulkifli. Zulkifli kemudian mencontohkan teknologi yang sangat membantu masyarakat misalnya tanaman hutan yang cepat besar, pemanfaatan obat herbal dari tanaman hutan, temuan energi ramah lingkungan yang memanfaatkan sumber daya alam hutan, dan sebagainya.
Lebih lanjut Zulkifli berharap pertemuan ini dapat menghasilkan dua hal yaitu strategi dan pendekatan ilmiah untuk pencapaian target jangka pendek pembangunan kehutanan, serta rumusan yang dipakai untuk menetapkan kebijakan jangka panjang pengelolaan hutan lestari.
Sementara menurut Menteri Riset dan Teknologi RI, Prof.Gusti Muhammad Hatta mengatakan tantangan terbesar dalam meningkatkan kontribusi teknologi dalam rangka pembangunan yang menyejahterakan rakyat adalah mengubah pola pikir pengembang teknologi itu sendiri dan para pihak pembuat kebijakan pendukungnya. Bukan karena semata keterbatasan anggaran, tetapi juga soal kualitas sumberdaya manusia yang rendah ataupun keterbatasan sarana dan prasarana riset. “Pengembangan teknologi yang berpijak pada realita dan berorientasi pada kebutuhan atau persoalan nyata perlu dijadikan budaya kerja. Teknologi yang inovatif adalah teknologi yang secara nyata tersebar dan bisa dimanfaatkan pihak pengguna untuk menggerakkan perekonomian dan menyejahterakan rakyat,” jelas Prof.Gusti.
Dalam kesempatan welcome speech, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Herry Suhardiyanto berharap pertemuan ini dapat meningkatkan jejaring internasional diantara masing-masing institusi. “Saya berharap kegiatan ini juga menjadi ajang promosi pengetahuan kehutanan bagi sesama peneliti dan akademisi,” ujar Rektor. (ris).
