Dialog Pagi RRI : Menyambut Hari Pohon Sedunia

Dialog Pagi RRI : Menyambut Hari Pohon Sedunia

Berita

Hari pohon sedunia yang  jatuh  pada tanggal 21 November diperingati  masyarakat untuk mengurangi pemanasan global. Masyarakat  menyadari bahwa kalau tidak ada pohon atau lahan gundul, maka bencana banjir dan longsor akan mudah terjad. Selain itu, pohon adalah tempat hidupnya berbagai macam makhluk hidup lainnya.  “Pohon mempunyai nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi.  Di Indonesia, selama kurun waktu empat tahun sudah dapat di panen pohon seperti Sengon dan Jabon. Bahkan jati yang mencapai usia kurang dari  10 tahun pun bisa dipanen. Sementara di negara lain, seperti Jepang, dua tahun masih dalam persemaian,”  demikian kata Dr. Ir. Irdika Mansur, M. For. Sc,        Staf Ahli dari Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan,  Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam acara Dialog Pagi Radio Republik Indonesia (RRI), Selasa (15/11) di Bogor.
 
Lanjut Dr.Irdika,  hutan rakyat  yang banyak berkembang di Jawa Barat,  bukan hanya kayunya  saja yang bisa dipanen, tapi getah, bunga dan daunnya dapat dimanfaatkan masyarakat. “Adapun terjadinya pembalakkan liar pada hutan-hutan lindung atau konservasi alam pada akhir-akhir ini dikarenakan tingginya permintaan  kayu, sementara suplainya terbatas,” ungkap Dr.Irdika. Dimana pada tahun 70-an hutan alam Indonesia menghasilkan sebanyak 50 juta meter per kubik per tahun, sementara sekarang untuk mendapatkan  9 juta meter kubik per tahun saja sangat susah. Jadi kalau kita tidak menanam pohon dari sekarang, ujar Dr. Irdika, maka hutan  dan taman konservasi alam akan tidak aman lagi.

Ketika ditanya langkah-langkah apa yang harus ditempuh oleh pemerintah akan fenomena yang terjadi pada masyarakat  sekarang ini.  Dr.Irdika menjawab, “Dengan berkembangnya penduduk Indonesia, maka meningkat  juga kebutuhan kayu untuk pembangunan, mebel, kayu lapis dan sebagainya. Kita harus meningkatkan perlindungan hutan rakyat, agar tidak terjadi lagi pembalakkan liar yang tentunya akan banyak merugikan kita semua.”

Satu sisi kita perlu meningkatkan penanaman pohon di hutan rakyat yang tentu menimbulkan beberapa kendala. Penanaman pohon yang sangat dekat sekali dengan pemukiman masyarakat memungkinkan pada musim hujan disertai angin kencang, pohon rawan tumbang dan mengenai rumah warga serta menimbulkan korban jiwa. “Oleh karena itu, kami menyarankan, agar memangkas pohon-pohon tersebut jangan sampai terlalu tinggi, tetapi tetap mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Dengan dipangkas, pohon tersebut akan tumbuh rindang, sehingga  tercipta Kota Bogor yang rindang, indah, sejuk dan nyaman,” jelas Dr. Irdika mengakhiri percakapan dengan RRI.(Irm)