Demo Minyak Atsiri IPB Meriahkan ENIP
Sebagai salah satu perguruan tinggi yang produktif menghasilkan berbagai inovasi, Institut Pertanian Bogor (IPB) tidak mau ketinggalan mengikuti Expo Nasional Inovasi Perkebunan (ENIP) 2011 di Balai Kartini Jakarta. Untuk memeriahkan suasana dan menarik pengunjung, Rini Purnawati dari Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB menggelar demo pembuatan minyak atsiri bunga melati. “Minyak atsiri dari bahan baku bunga diperoleh melalui proses penyulingan, sedangkan yang berbahan selain bunga (batang, ranting, daun, kayu) diperoleh melalui proses distilasi,” terang Rini pada pengunjung. Usaha itu pun berhasil. Banyak pengunjung mengerumini stand IPB.
Salah satunya Sumirman, Mitra Binaan PT. Perkebunan Nusantara XII, asal Sidoarjo tertarik melihat langsung demo pembuatan minyak atsiri. “Saya baru pertama kali ini melihat proses pembuatan minyak atsiri. Ternyata cara membuatnya sederhana. Hanya saja menggunakan alat yang harganya tidak murah,” ujar Sumirman.
Hal senada juga disampaikan Nur Khalifah, siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sedang magang di Pusat Penelitian Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun) Bogor ini juga baru pertama kali melihat proses pembuatan minyak atsiri. “Selama ini begitu ya cara membuat minyak atsiri untuk campuran minyak wangi,” tuturnya. Selain beranekaragam minyak atsiri, Nur juga tertarik produk inovasi IPB diantaranya sabun dari jarak, wafer hijauan, dan boneka horta. Boneka terbuat dari limbah industri kayu ini memang unik. Bila disirami air, selang seminggu kepala boneka horta tumbuh rambut dari rumput hijau.
Dalam kesempatan berbeda, Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Bayu Krisnamurti menyambangi stand IPB. Ketika pandangan matanya tertuju pada wafer hijauan untuk ruminansia, serta merta Dr. Bayu mendekati dan menimang wafer hijauan untuk pakan ternak tersebut. “Alangkah lebih bagus lagi bila yang ditampilkan alat pembuat wafer hijauan ini, agar petani dapat memproduksinya sendiri. Di samping itu saya berharap bengkel-bengkel di pinggir jalan dapat memproduksi dan memasarkannya dengan mudah,” kata Dr. Bayu. Menurut Dr.Bayu teknologi wafer itu merupakan terobosan yang baik, sebagai solusi kekurangan pakan pada musim kering. Pada musim hujan dimana jumlah rumput melimpah, lanjut Dr.Bayu, petani dapat menyimpan pakan dalam bentuk wafer. Pada musim kering wafer ini bisa diberikan pada ternak. (ris)
