Antisipasi Trafficking : Waspadai Pola Hidup Anak
Blackberry, behel gigi, dan naik BMW atau biasa dikenal dengan gaya hidup B-3 telah beberapa lama menjadi pola dan gaya hidup remaja di Kabupaten Sukabumi. Demikian dikatakan Kabid Pemberdayaan Perempuan BKBPP Kabupaten Sukabumi, Dra. Elis Muslimah, MM., saat menjadi pembicara pada “Training of Trainer (ToT) Penanganan dan Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang” yang diselenggarakan oleh Divisi Pusat Studi Wanita (PSW) PSP3 LPPM IPB bekerjasama dengan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non Formal, dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional, Kamis (15/9).
Menurut Elis, hal tersebut bisa menjadi salah satu pemicu dari tindak pidana perdagangan orang. “Bagaimana tidak, ketika di rumah si anak tidak memperoleh itu semua, maka sering terjadi mereka terlena dengan iming-iming oknum yang akan mempekerjakan mereka di suatu tempat dengan upah yang besar. Karena itu saya berpesan agar para orang tua waspada terhadap gaya hidup anak di zaman sekarang ini,” kata Elis.
Di tempat yang sama, Kepala Biro Pengembangan Sosial Setda Provinsi Jawa Barat Dr. Nenny Kencanawati bertutur mengembalikan dan memulangkan para korban trafficking adalah langkah yang tidak mudah dan tidak murah. Nenny mengatakan, pasca pemulangan mereka di kampung halaman harus juga dipikirkan oleh semua pihak. Pasalnya, sering kali terjadi mereka yang sudah dipulangkan dengan susah payah, ternyata diam-diam kembali ke semula.
Nenny menyebut korban trafficking yang dipulangkan oleh Tim Gugus Tugas Provinsi Jawa Barat periode 2009-2011, sampai dengan September 2011 sebanyak 139 korban yang dijemput. Jumlah korban terbanyak dari Kabupaten Bandung, yang dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi, globalisasi informasi, wilayah baru dan aman bagi trafficker untuk beroperasi dibanding daerah lain.
Nenny juga memetakan korban trafficking menurut wilayah (zona) Jawa Barat. Untuk Kota dan Kabupaten Bogor masuk dalam wilayah II, dimana jumlah korban trafficking sedikit tapi potensi munculnya korban baru besar mengingat jumlah penduduk perempuan cukup tinggi. Sementara, Kabupatean Cianjur dan Kabupaten Sukabumi masuk wilayah I, atau tingkat kerawanan setingkat lebih tinggi.
“Masyarakat agar turut berpartisipasi melaporkan data kependudukan yang valid secara berjenjang kepada RT, RW, Kades atau Lurah, hingga Camat, terkait dengan domisili, usia dan lain-lain,” pungkasnya. (nm)
