Satu Porsi Trenggiling Harganya Rp 2 Juta

Satu Porsi Trenggiling Harganya Rp 2 Juta

Berita

Trenggiling merupakan salah satu dari 236 satwa langka yang dilindungi pemerintah, hingga saat ini belum ada yang tahu teknik dan cara untuk membudidayakan dan menangkarkannya, demikian dikatakan Agus Sriyadi Budi Sutito Kepala Subdit. Pengawetan dan Pemanfaatan Jenis, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Sumberdaya Hayati dalam Lokakarya bertajuk “Potensi Trenggiling Indonesia dan Peluang Pembudidayaannya” bertempat di Ruang Sidang Mawar Kampus IPB Baranangsiang Bogor,14/4. Acara ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Biofarmaka (PSB) IPB bekerjasama dengan PT. Primax Asia Link.  

Menurut Agus, tahun 2008 Trenggiling sudah termasuk satwa kategori in danger, meskipun demikian banyak orang yang memburunya karena harganya yang mahal. Harga 1 kg daging Trenggiling bisa mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Harga ini akan meningkat lagi jika telah menjadi masakan, per porsi bisa mencapai Rp 2 juta.

Agus menambahkan selain daging, sisiknya pun memiliki nilai jual yang tinggi. Satu sisik Trenggiling memiliki nilai jual 1 dollar AS. Trenggiling saat ini banyak diburu untuk dijadikan santapan orang-orang kaya dan diyakini dapat mengobati penyakit jantung, stroke, paru-paru dan untuk bahan kosmetik.

Agus melaporkan saat ini kasus penjualan Trenggiling illegal tercatat 2000 kasus dengan modus dicampur dengan ikan ekspor, dengan tujuan Hongkong, Thailand, dan Taiwan. “Kejahatan seperti ini sudah masuk dalam kejahatan nomor 3 dunia,“ tandasnya. Agus berharap melalui lokakarya ini dapat dirumuskan teknik budidaya dan penangkaran untuk Trenggiling.

Prof. Dondin Sajuthi , Direktur Rumah Sakit Hewan IPB yang juga peneliti dan penangkar Owa Jawa yang berkesempatan menjadi narasumber memberikan gambaran bahwa budidaya dan penangkaran hewan langka harus terlebih dahulu mengetahui species, tingkah laku, jenis pakan, jenis kelompok, perkandangan dan pengkayaan lingkungan yang untuk memenuhi hal tersebut membutuhkan biaya penelitian yang sangat mahal.

Sementara itu, Dr.drh. Khairunisa yang selama ini sangat konsern meneliti Trenggiling menyampaikan bahwa Trenggiling merupakan hewan asli Indonesia yang sangat unik karena satu-satunya mamalia yang memiliki sisik dan tidak mempunyai gigi. Hanya sangat disayangkan karena benturan dana, penelitiannya hanya sampai menggali anatomi dari Trenggiling.

Acara yang dihadiri oleh para peneliti dan praktisi ini dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB, Prof. Dr. Bambang Pramudya. (dh)