Dialog Sore: Temulawak, Icon Jamu Indonesia

Dialog Sore: Temulawak, Icon Jamu Indonesia

Berita

Jika Korea punya Gingseng, Indonesia memiliki temulawak. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan asli Indonesia (Setiawan, 2000). Penyebarannya hanya terbatas di Jawa, Maluku, dan Kalimantan.

Menurut gabungan pengusaha jamu, temulawak adalah bahan baku yang umumnya digunakan sebagai bahan dasar jamu. “Kita ingin ada satu yang menonjol, jamu kita sangat beragam kenapa kalah dengan gingseng padahal berdasarkan penelitian, temulawak tidak kalah dengan gingseng,” ujar Dr. Drh. Min  Rahminiwati, M.Si dan Siti Sadiah, pakar obat herbal dari Pusat Studi Biofarmaka IPB saat menjadi narasumber di Dialog Sore RRI.

Dewasa ini, masyarakat mulai percaya jamu, tetapi lebih ke jamu impor. Padahal warisan tanaman kita sangat banyak tetapi tidak terangkat dan kalah pamor dengan China karena dari segi pendataan China lebih konsisten. China ketika mengembangkan pengobatan kovensional tidak meninggalkan pengobatan tradisional.

Lalu bagaimana membantu percepatan pola pikir masyarakat agar kembali ke pengobatan tradisional? Obat tradisional dari rempah (herbal) memang tidak dapat menyembuhkan secara instan seperti obat konvensional tetapi obat tradisional memiliki keunggulan yakni adanya kandungan metabolit aktif yang menjadi sumber untuk regenerasi sel yang rusak.

“Selain itu, obat konvensional memiliki efek samping, obat herbal juga ada tetapi jika dibandingkan dengan konvensional, obat herbal lebih sedikit,” ujarnya.

Namun, menurutnya, patut diwaspadai juga banyak jamu atau obat herbal yang sudah dicampur dengan bahan kimia. Ini yang berbahaya. Cara untuk mengetahuinya cukup mudah, jika dalam sekali minum jamu, badan sudah terasa sehat maka kemungkinan jamu tersebut sudah tercampur dengan bahan kimia. (zul)