Dwi Hastuti: Revitalisasi Peran Ibu
Coffe Morning IPB, Memperingati Hari Ibu 22 Desember 2010
Peran seorang ibu saat ini harus direvitalisasi diantaranya adalah dengan peningkatan dan keterampilan ibu untuk memberikan stimulus, teladan, pembiasaan, dukungan, penetapan aturan dan emosi positif pada anak. Terutama terkait dengan isu dan tantangan sesuai umur anak. Kemudian peningkatan keharmonisan keluarga dan dukungan keluarga, peningaktan perhatian (Attention), pembentukan kelekatan emosi (Bonding) dan Komunikasi dengan anak (communication) serta dukungan kebijakan pro keluarga dan pro anak (pelayanan kesehatan dasar, pendidikan dan perlindungan anak).
Begitu dipaparkan oleh pakar keluarga yang juga dosen di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB, Dr. Ir. Dwi Hastuti, M.Sc.,dalam kegiatan Humas Sekretaris Eksekutif IPB "Coffe Morning, Memperingati Hari Ibu, (21/12), di PSP3 IPB, Kampus IPB, Baranangsiang, Bogor.
"Saat ini banyak ibu yang bekerja sehingga meninggalkan anaknya, agar kebutuhan dasar instrument makan, minum, sandang dan emosional anak tetap terpenuhi, maka ibu harus tetap memberikan waktu dan perhatiannya kepada anak. Ibu yang baik itu, harus bisa mengelola dan menyeimbangkan antara waktu bekerja dengan waktu kepada anak," ujar Dwi Hastuti di hadapan para wartawan.
Menurutnya, cara memberikan perhatian kepada anak tidak hanya dilakukan pasca kehamilan, namun juga pada saat di dalam kandungan.
"Inilah yang nantinya membentuk karakter si anak. Perhatian si ibu akan sangat mempengaruhi si anak dalam kandungan. Jika ibunya memiliki emosi yang tidak stabil maka secara tidak langsung akan berdampak pada anaknya, begitu pula sebaliknya," ujar Dr. Dwi.
Terkait dengan pola pengasuhan singel parent yang saat ini banyak dipilih oleh para orang tua, Dr. Dwi menjelaskan, orang tua tunggal berpeluang 3-4 kali memiliki anak dengan problem emosi dan perilaku (Zill and Schoenborn, National Center for Helath Statistics, 1990), dan 84% dari remaja yang diopname karena sebab psikiatrik berasal dari keluarga orang tua tunggal (penelitian 1989 dikutip oleh Hewlwtt).
"Maka dari itu, orang yang akan menikah hendaknya harus sudah siap lahir dan bathin, baik itu untuk calon suami atau istri, dan mendapatkan bimbingan dan konseling sebelum menikah," ujarnya.
Menanggapi hari ibu dan bagaimana peranan yang harus dilakukan ibu-ibu di Indonesia, Dr Dwi menjelaskan, sebagian besar para ibu di Indonesia adalah pengasuh utama di dalam keluarganya, dan peranan yang dipikul ibu saat ini sangat besar karena mereka harus mendidik anak dengan tantangan yang semakin kompleks, misalnya arus globalisasi, media massa, semakin mudahnya akses informasi, perkembangan teknologi dan sebagainya. (man)
