Seminar Tahunan Maksi 2010, Resmikan Sahabat Sawit
Negara-negara penghasil minyak kedelai mulai mewaspadai terjangan minyak sawit di pasar dunia. Saat ini muncul kampanye-kampanye negatif terhadap minyak sawit. Berbagai isu negatif yang semakin gencar digaungkan antara lain adalah isu lingkungan yang terkait kasus pembakaran hutan sawit, emisi karbon, hilangnya keanekaragaman hayati, terganggunya orangutan dan isu kesehatan produk sawit dan turunannya. Sayangnya isu-isu tersebut seringkali bukan berdasarkan data dan fakta yang benar.
Demikian wacana yang mengemuka pada Seminar Tahunan Masyarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia (MAKSI) 2010, Rabu (8/12) di IPB International Convention Center (IICC) Bogor. Acara yang dibuka secara resmi oleh Ketua Umum MAKSI Prof.Dr.Ir. Tien R Muchtadi, MS., ini dihadiri Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Dr. Bayu Krisna Murti, yang didaulat menjadi keynote speaker.
Padahal, terang Prof. Tien, kita ketahui bersama bahwa saat ini Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia, dimana produksi dan luas arealnya telah melampaui Malaysia. Produksi CPO tahun 2009 mencapai 21,5 juta ton dengan luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 8.127 juta hektar.
Menurut data Oil World Annual 2009-2010, pasar minyak nabati saat ini dikuasai oleh minyak sawit, dengan perbandingan 27,7 persen untuk minyak sawit dan 22,4 persen untuk minyak kedelai, dari total 168,8 juta ton minyak nabati. Padahal luas kebun sawit seluruh dunia hanya 13,1 juta hektar, dibandingkan kedelai yang 97,3 juta hektar. Efisiensi lahan ini dimungkinkan karena kelapa sawit adalah tanaman tahunan yang berbuah sepanjang tahun, dibandingkan kedelai yang merupakan tanaman musiman.
Pemanfaatan sawit juga tidak terbatas pada minyaknya saja. Hampir seluruh bagian dari tanaman sawit memiliki nilai ekonomi. Contohnya seperti ampas tandan kelapa sawit yang berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik melalui fermentasi aerob.
Wamentan mengatakan, Indonesia yang saat ini sebagai produsen terbesar kelapa sawit sedang menempuh serangkaian langkah sistematis dan mendasar, menuju tersusunnya pembangunan kelapa sawit berkelanjutan melalui Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). ISPO merupakan arahan atau guidance pengembangan kelapa sawit berkelanjutan Indonesia yang didasarkan pada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.
Hadir sebagai narasumber diantaranya Wakil Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia, Derom Bangun, Ketua Umum GAPKI Joefly J Bahroeny, Asisten Deputi Urusan Perkebunan dan Hortikultura Deputi Bidang Pertanian dan Kelautan Kementerian Koordinator Perekonomian, Musdhalifah Machmud, dan Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, Benny Wahyudi. Dalam kesempatan ini juga diresmikan adanya “Sahabat Sawit”, yakni artis kenamaan Indonesia Ari Lasso dan Audy untuk membawa misi mempopulerkan potensi sawit nasional kepada masyarakat luas. (nm)
