Profesi Arsitektur Lanskap Harus Ikut Serta Sejak Proses Awal Pembangunan

Profesi Arsitektur Lanskap Harus Ikut Serta Sejak Proses Awal Pembangunan

Berita

Ikatan Arsitektur Lanskap Indonesia (IALI), bekerjasama dengan Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas  Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia menyelenggarakan Simposium Ilmiah Nasional IALI 2010 bertajuk ‘Pemberdayaan Peran Serta Profesi Arsitektur Lanskap dalam Mengatasi Masalah Kerusakan Lingkungan dan Bencana Alam Melalui Pendekatan Konservasi dan Penataan Ruang’, Rabu (10/11) di IPB International Convention Centre, Bogor.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Dr.Ir. Bambang Sulistyantara, M.Agr mengatakan, simposium  ini merupakan upaya mengkomunikasikan karya-karya analisis, perencanaan dan perancangan dalam bidang arsitektur lanskap secara nasional . “Topik yang dipilih sangat tepat dengan situasi negara kita, dimana aspek penataan ruang yang dijalankan sebagaimana mestinya dapat menyebabkan kerusakan tatanan lingkungan dan merugikan kelangsungan hidup masyarakat.  Solusi-solusi yanng ditawarkan dalam makalah simposium dikelompokkan dalam tiga bagian yaitu perencanaan dan perancangan ruang, konservasi lingkungan dan budaya, dan yang berkaitan dengan pengembangan green infrastructure dan green building,” papar Dr.Bambang.

Ketua IALI Ir.Hengki Triyogo Heksanto  menambahkan simposium  ini dianggap penting untuk menggalang  naskah untuk memecahkan masalah khususnya bencana alam. “Profesi Arsitektur Lanskap seringkali dilibatkan dalam tahapan pelaksanaan saja. Profesi ini  lanskap masih dianggap pelengkap saja. Profesi Arsitektur Lanskap semestinya menjadi pioner dalam perencanaan dan perancangan arsitektur nasional,” tegasnya.

Menurut Wakil Rektor Bidang Sumberdaya dan Pengembangan IPB, Prof. Dr.Ir.Hermanto Siregar, M.Ec dalam sambutannya mengungkapkan tema  yang diangkat  simposium ini sangat timely. Lanjut Prof. Hermanto terdapat  dua  kekuatan besar yang given dan berpengaruh terhadap dampak negatif. “Pertama proses pembangunan itu yang tentunya merupakan suatu keniscayaan tingkat nasional hingga daerah. Pencapaian selama ini merupakan akumulatif dari proses pembangunan sejak dari Orde Baru. Banyak pembangunan yang terjadi, namun juga ada dampak negatif.  Semestinya Arsitektur Lanskap diajak sejak awal dalam proses perencanaan pembangunan, tidak hanya beauty justification saja,” ujar Prof. Hermanto. Kedua, kita berada di ring of fire atau kawasan bencana ini juga given. Dalam menghadapi dua hal kekuatan given tersebut yang dapat kita lakukan adalah langkah antisipatif.

Sekarang pemerintah sedang berencana memindahkan ibu kota, kata Prof. Hermanto, sudah ada tiga kandidat lokasi yang dipilih sebagai pengganti. “Saya kira Arsitektur Lanskap perlu diajak untuk merancang proses pembangunan ibukota tersebut. Kiranya perlu komunikasi dan partisipasi yang lebih aktif  dilakukan antara IALI dengan himpunan profesi lain misalnya, ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), sehingga perannya lebih nyata,” jelas Prof. Hermanto.
Pembicara kunci pertama, Prof. Tong Mahn Ahn, Departemen Arsitektur Lanskap dan Teknik Sistem Pedesaaan, Universitas Nasional Seoul, Korea Selatan menyampaikan sejarah arsitektur lanskap Korea  di masa lalu yang terdiri dari tiga kerajaan sebelum terjadi kolonisasi oleh Jepang. “Degradasi nasional terjadi ketika kolonisasi Jepang,  selanjutnya dilakukan perbaikan perumahan oleh Gerakan Masyarakat Baru,” ujar Prof. Tong.

Pada proses industrialisasi, urbanisasi dan penataan ruang publik di Korea, Prof. Tong mengatakan pemerintah melakukan kebijakan diantaranya : mengontrol langsung terhadap green belt, taman kota dan tanaman hijau, ruang publik terbuka pada lahan pribadi, membuat panduan  taman kota pada setiap provinsi, memberikan insentif untuk penghijauan, melindungi pemandangan yang menjadi simbol atau bernilai sejarah dan melakukan proyek khusus pembangunan taman kota di berbagai tempat. “ Pemerintah juga melibatkan pihak swasta dalam mengelola tata ruang kota, terbukti k sedikit perusahaan menyumbangkan dana untuk penghijauan kota,” ujar Prof.Tong.

Selanjutnya pembicara kunci kedua dari Deputi Bidang Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup RI, Dr.Heru Waluyo, M.Kom, memaparkan tentang penyebab  masalah kerusakan lingkungan dan bencana alam melalui pendekatan konservasi dan penataan ruang serta cara mengatasinya.
Dalam momen tersebut, terkumpul 68 judul naskah ilmiah yang nanti akan diseleksi menjadi 48 judul untuk dimuat di jurnal ilmiah nasional dan internasional. (ris)