Gebyar Nusantara IPB 2010
Seorang mahasiswi dari Institut Pertanian Bogor memukau penonton dengan atraksi Debus pada Gebyar Nusantara (Genus) IPB 2010, yang merupakan rangkaian Dies Natalis IPB ke 47, Sabtu (16/10) di Grha Widya Wisuda (GWW) Kampus IPB Darmaga, Bogor. Tarian daerah, makanan khas daerah, baju adat, dan budaya khas daerah dari berbagai daerah di Nusantara ditampilkan. Daerah-daerah yang ikut berpartisipasi adalah Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Barat, Bali, Jawa Timur, Yogyakarta, Semarang, Majalengka, Ciamis, Sumedang, Bandung, DKI Jakarta, Banten, Lampung, Belitung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Riau, Palembang, Tapanuli dll.
Debus selain merupakan satu kesatuan dengan seni bela diri pencak silat, juga memiliki kelengkapan atraktif. Debus selalu menarik dan membuat syaraf segenap penontonnya menjadi tegang. Kenapa? Karena permainan bersenjatakan golok, pisau, atau benda tajam lain, yang mengakibatkan luka-luka berat di bagian perut, muka, kepala, dan tubuh lainnya merupakan ciri khas Debus. Tetapi sang pemain, tak juga mati, bahkan tetap tegar. Seluruh luka di tubuh pemain itu dalam sekejap sembuh lagi hanya dengan usapan tangan pelatihnya.
Genus 2010 bertemakan Membangun Karakter Bangsa dengan Inspirasi Semangat Kepemudaan dengan menghadirkan Dr. Adyaksa Dault, sebagai Keynote Speaker. Di hadapan ratusan mahasiswa IPB, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga ini mengatakan ada empat budaya globali yang mengikis budaya Negara berkembang seperti Indonesia yakni Industri, Investasi, Individualisasi, dan Informasi.
“Orang bicara industri tapi tidak memperhatikan dampaknya, orang berinvestasi dengan modal sekecil-kecilnya untuk keuntungan sebesar-besarnya. Lihatlah kondisi saat ini, orang tidak saling berbicara di dalam lift (budaya Indonesia adalah ramah tamah dan saling menyapa), dan jika tidak ada filternya, maka pembukaan informasi yang seluas-luasnya akan sangat berbahaya,” ujarnya.
Oleh karenanya, Dr. Adyaksa Dault menghimbau agar pemerintah berani menutup situs-situs yang negatif untuk menyelamatkan generasi muda Indonesia. Selain itu, Ia juga bangga dengan IPB yang mampu hidup rukun dan menyatukan berbagai budaya adat yang ada dengan digelarnya acara ini.(zul)
