Jumling Desa Sinarsari: IPB Serahkan Empat Ekor Bakalan Jantan
Tim Jum’at Keliling (Jumling) Institut Pertanian Bogor (IPB) menyerahkan empat ekor domba bakalan jantan dengan sistem bagi hasil kepada peternak, Jum’at (5/8) di Desa Sinarsari. “Empat ekor bakalan domba jantan tersebut akan digemukkan, lalu pada Hari Raya Idul Adha dijual dan keuntungannya dibagi dengan sistem bagi hasil. Jadi bukan untuk disembelih,” kata Peneliti Fakultas Peternakan (FAPET) IPB, Dr.Sri Rahayu. IPB memilih memberikan domba karena mudah dipelihara. Sedangkan sapi membutuhkan perawatan ekstra. “Domba tersebut kami serahkan pada peternak dengan kriteria mempunyai kandang sendiri, sanggup merawat, dan mencarikan rumput,” ujar Dr.Sri. Selama proses penggemukan tersebut tim IPB akan mendampingi bagaimana dombanya cepat gemuk. IPB berharp program penggemukan domba ini suatu saat bergulir ke peternak lain.
Pimpinan Rombongan Jumat Keliling (Jumling) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB) Dr. drh.Hasim, DEA menambahkan pemberian domba ini semoga tidak melalaikan peternak dalam beribadah dan keluarga. “Jangan sampai sanking cintanya pada domba, dia lupa shalat, lupa anak dan sebagainya,” tegas Dr.Hasim.
Dalam sambutannya, Dr.Hasim mengingatkan warga untuk mensyukuri karunia alam yang diberikan Allah. “ Kita seringkali lebih menyukuri karunia makanan dari hasil pertanian yang menjadi sumber energi manusia dibanding karunia sinar matahari yang menjadi sumber energi fotosintesis tanaman. Padahal tanpa sinar matahari semua tanaman tidak bisa menghasilkan bahan makanan yang dibutuhkan manusia,” katanya.
Dengan menyukuri karunia tersebut, maka Allah akan menambahkan karunia-Nya. Dekan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB ini mengingatkan warga untuk tidak membeda-bedakan bahan pangan bagi manusia. Menurut Dr.Hasim, baik singkong, jagung maupun beras sama saja sebagai sumber energi manusia. Orang yang makan beras tidak lebih baik dibanding orang yang makan jagung. Sebab, keduanya mempunyai keunggulan untuk kemanfaatan manusia. “Suatu hasil pertanian itu berharga atau tidak hanyalah penilaian manusia. Bagi petani mungkin rumput tidak berharga sehingga dicabut dan dibuang. Sementara di pertandingan Piala Dunia Sepak Bola, harga rumput di stadion lapangan sepak bola amat mahal,” tandas Dr.Hasim.
Camat Dramaga, Arom Rusmandar menyampaikan terima kasih kepada IPB yang telah membantu warganya khususnya warga Sinarsari untuk mengangkat potensi lokal desa seperti keripik talas belitung dan bandrek supaya kesejahteraannya meningkat. “IPB juga telah berupaya memasarkan produk keripik tersebut di Serambi Botani di Botani Square,” ungkapnya bahagia.
Camat Dramaga juga menghimbau warganya agar memperhatikan masalah lingkungan. “Warga desa di sini menggabungkan kandang ternak dan rumahnya, sehingga tidak bisa dibedakan antara rumah manusia dan kambing. Alangkah lebih baik kandang kambing dipusatkan satu tempat untuk mencegah penyakit anthrax,”tegasnya. Camat Dramaga berharap suatu saat Desa Sinarsari menjadi desa percontohan seperti Desa Cikarawang.
Dalam kesempatan itu, hadir Kepala Desa Sinarsari Muhammad Latip, Peneliti SEAFAST Center IPB, Sumarto,S.TP, dan Perwakilan Posdaya IPB, Warcito, SP. Setiap perwakilan dari IPB tersebut menyampaikan beberapa masukan pada warga. SEAFAST Center IPB berjanji akan membantu pengurusan izin Industri Rumah Tangga (IRT). Pihak Posdaya IPB akan membantu pembinaan dan pendampingan usaha kecil menengah (UKM). (ris)
