Didin Jaenudin, Pegawai IPB yang Sukses Berbisnis Cireng 20 Rasa
Gelora berwirausaha bukan hanya
terjadi dikalangan mahasiswa IPB, dikalangan pegawai IPB pun banyak ditemukan
sosok-sosok wirausaha. Salah satunya adalah Didin Jaenuddin yang biasa di sapa
Bram Cireng. Ia bergelut di usaha
makanan jajanan “Cireng”.
Cireng, adalah makanan yang
terbuat dari tepung sagu. Cireng
merupakan singkatan kata aci yang digoreng. Inovasi diberikan Bram padaproduk
Cirengnya. Cireng racikannya memiliki aneka rasa dan isi mulai dari isi, ayam,
kornet, sosis, baso, keju, abon sapi, oncom, blue berry, dan sebagainya hingga
20 varian.
Dalam sehari Bram sudah bisa
memproduksi 15 ribu cireng. Karyawannya sudah 30 orang untuk satu pabrik.
Cabangnnya sudah di mana-mana salah diantarannya adalah Ciawi, Depok, Serang,
Tangerang, BSD, Jakarta, Lampung, Medan, dan Palembang. Sementara di Bogor
sendiri saat dilaporkan sedikitnya 3 cabang yaitu di Bantarjati, Kedung Badak,
dan Ciawi.
Jangan melihat bentuk makanan yang tampak sepele, tapi
lihatlah kerja keras Bram untuk membesarkan bisnisnnya dan terus memompa
semangat. Tangan-tangan gurita bisnisnya sudah merajalela hingga ke Bandar
Lampung.
usahanya maju karena konsep yang
diterapkan Bram lebih mirip ke konsep Multi Level Marketing (MLM). Sehingga Ia
tidak perlu repot memasarkan produknya, namun hanya memproduksinya saja, dan
para tenaga pemasaran akan berdatangan kepadanya.
“Saya tertarik dengan usaha
makanan ringan cireng ini, karena melihat penjulanya di Kota Bandung sangat
sukses,” ujar Bram saat di wawancara di kediammnya di Bantarjati Kaum, Bogor.
Bram, mulai tertarik berbisnis
cireng berawal pada tahun 2006 ketika Bulan Ramadhan pada saat orang ramai
mencari jajanan. Memang, orang tua Bram adalah pembuat cireng di Bandung. Namun,
konsep yang di tawarkan Bram kepada pelanggan berbeda dengan orang tuanya.
“Saya berjualan cireng karena
berawal dari faktor ekonomi. Hal inilah yang mendorong saya untuk tetap hidup.
Kalau orang tua saya hanya menjual saja, tapi saya menjual dengn kreativitas
dan konsep MLM,” ujar pria kelahiran Bandung, 30 Januari 1978 ini.
Awalnya sangat pahit, dengan
bermodalkan 500 ribu rupiah pinjaman dari kantor, Bram bersama istri Hernawati
mencoba membuat gerobak cireng.
“Saya mulai membuat gerobak
dengan tangan saya sendiri di Taman Kencana. Cat dan kaca gerobak saya mencoba pinjam dari teman, modal uang
pun pinjaman dari kantor.,” ujarnya.
Bersama istrinya Bram bahu
membahu mengelola usahanya.. Lima bulan sudah waktu bergulir namun perkembangan
bisnisnya itu belum membuahkan hasil. Suatu ketika sejak peristiwa itu Bram
memiliki ide ‘gila’. Ia membuat cireng sebanyak 1000 buah, kemudian dibagikan
gratis kepada orang di jalan. Meskipun ia menyadari bahwa biaya produksi esok
hari sudah tidak ada lagi.
“Saya mencari teman dan orang di
jalan, kemudian cireng itu saya bagikan gratis. Alhamdulillah sejak peristiwa
itu banyak orang berdatangan, mulai dari ingin bekerjasama hingga ingin menjadi
pelanggan setia,” kata Bram.
Bram menerapkan sistem MLM dalam
bisnis cirengnya. Tak berapa lama bisnisn cirengnnya pun berlari kencang.
Berawal produksi 300 buah kini sudah mencapai 15 ribu cireng perhari. Mulai
dari satu orang karyawan kini sudah 130
karyawan yang berada di cabang-cabangnya. (man)
