Dirjen Pendidikan Tinggi Tinjau SNMPTN Panlok Bogor
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI), Prof. Dr.Ir
Joko Santoso, meninjau hari pertama pelaksanaan Seleksi Nasional Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2010, di Panitia Lokal (Panlok) Bogor, Bogor(16/6).
Dirjen DIKTI didampingi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik
dan Kemahasiswaan IPB, Prof. Dr.Ir. Yonny Koesmaryono, MS., bersama dengan
pejabat DIKTI dan pejabat IPB lainnya.
Kunjungan mereka diawali dari Kampus IPB Baranangsiang,
Kampus Diploma IPB dan terakhir menuju Sekolah Menengah Umum Plus Yayasan
Persaudaraan Haji Bogor (YPHB).
Penyelenggaraan SNMPTN di Bogor digelar di beberapa tempat,
diantarannya, Kampus IPB Baranangsiang,
Kampus Diploma IPB, SMUN 1, SMUN 3, SMU Plus YPHB, SMU Kesatuan, MAN 2, SMU
PGRI 1 dan PGRI 4.
Pada kesempatan tersebut Dirjen Dikti diberikan kesempatan
untuk membuka soal yang masih tertutup rapat dengan disaksikan oleh pengawas
dan perwakilan peserta SNMPTN.
Di sela kegiatan tersebut Drjen Dikti mengatakan, persiapan yang
dilakukan cukup baik dan semuanya berjalan sesuai dengan SOP.
“Tadi Kita sudah melihat secara bersama-sama persiapannya
sudah cukup baik dan semuanya berjalan sesuai dengan SOP,” ujarnya.
Joko mengharapkan SNMPTN ini dapat memberikan gambaran secara
nasional tentang kualitas calon mahasiswa.
Peserta SNMPTN Panlok
Bogor Naik 3 %
Peserta SNMPTN 2010 dari Panlok Bogor (Bogor, Bekasi Cirebon
dan Sukabumi) naik sebanyak 3% dari tahun 2009 menjadi 10500 orang, sementara di
Kota dan Kabupaten Bogor tahun ini berjumlah sekitar 4200 orang.
Begitu dipaparkan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan
Kemahasiswaan IPB, Prof. Dr.Ir. Yonny Koesmaryono, saat mendampingi Dirjen
DIKTI.
Menurutnya, kenaikan itu bisa jadi karena perubahan sistem pendaftaran
SNMPTN dengan sistem on line yang memudahkan calon mahasiswa.
“Dengan adanya kemudahan secara on line ini ada peningkatan
peserta di Panlok Bogor, malahan di Jakarta peningkatannya jauh lebih besar,”
ujarnya.
Mengomentari tentang joki SNMPTN, Prof. Yonny mengharapkan
hal tersebut tidak akan terjadi karena sistem pengawasan sudah sesuai dengan
standar yang ada.
“Pengawasan sudah standar, pengawas tidak ada yang mahasiswa
dan dilakukan oleh dosen, guru dan pegawai golongan III, mereka sudah di-briefing
sebelumnya,” ujarnya. (man)
