Antisipasi Isu Perubahan Iklim dari Berbagai Sisi

Antisipasi Isu Perubahan Iklim dari Berbagai Sisi

Berita

Sektor pertanian sangat sensitif terhadap variasi iklim. Kekeringan yang dialami 36 negara pada tahun 2008 mengguncang ketahanan pangan dunia. Prediksi musim panas tahun 2040-2060 "warmer than warmest on record" dari Science AAAS, 2009, menampilkan wilayah mana di dunia yang kemungkinan akan lebih panas di banding tingkat panas yang mungkin terjadi. Kenaikan suhu Indonesia diprediksi mencapai 70-90%.

"Jika data ini benar terjadi, ini merupakan tantangan terbesar bagi Indonesia," ujar Dr.Dwi Andreas Santosa, Tenaga Pendidik di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan (ITSL) IPB. Hal ini disampaikannya saat menjadi narasumber Serial Discussion bertema "Kontribusi Sektor Pertanian bagi Peningkatan Emisi Karbon serta Mencari Strategi Adaptasi dan Solusi Alternatif" di Ruang Anggrek, Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB, (6/4).

Menurutnya, perubahan iklim berdampak langsung terhadap pertanian dan yang paling menderita adalah petani kecil. Akibat perubahan iklim, tahun 2050 Asia meliputi Asia Tenggara (Indonesia masuk di dalamnya) akan mengalami kekurangan pangan sebesar 125 juta metrix ton. Tantangan menjadi semakin besar bagi Indonesia dengan adanya fakta bahwa lima tahun terakhir telah terjadi penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) dari 115 menjadi 98. Bahkan data dari International Fund Of Agriculture Development (IFAD) menunjukkan 75% dari 1,2 Milyar orang miskin berada di perdesaan/pertanian.

"Pemerintah menyatakan kita telah swasembada beras, namun diimbangi dengan penurunan kesejahteraan petani. Petani Indonesia sebagian besar tidak mempunyai lahan, mereka sekarang menjadi buruh tani dan 30-50% pendapatannya berasal dari pekerjaan di luar off farm dan atau non farm. Dengan adanya perubahan iklim, diperlukan strategi adaptasi di sektor pertanian," tambahnya.

Salah satu contoh strategi adaptasi yakni penggunaan tanaman transgenik yang dapat tumbuh di lahan kering (tidak perlu pembajakan sehingga mengurangi penggunaan bahan bakar). "Lobi-lobi yang cukup kuat di Kopenhagen waktu itu mengarah pada 100 juta hektar lahan di dunia akan ditanami tanaman transgenik," tuturnya.

Sementara, menurut Ketua Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (ESL) IPB, Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT, kebijakan Departemen Pertanian yang tertuang dalam Renstranya, belum terlihat antisipasi di bidang pertanian dari pemerintah dalam menghadapi perubahan iklim.

"Oleh karena itu, kami sebagai akademisi yang konsen terhadap pertanian dan lingkungan berupaya membuat konsep utuh tentang perubahan iklim di bidang pertanian, organik farm, perikanan dan kelautan. Rencananya kami akan menggelar 4 kali lagi stadium general seperti ini untuk masing-masing bidang," ujarnya.

Untuk stadium general kali ini, narasumber lain yang dihadirkan yakni Tejo Pramono (tergabung dalam gerakang petani internasional), Muhamad Islah (WALHI), dengan moderator Wakil Dekan FEM, Dr. Eka Intan Kumala Putri.(zul)