Bicara Iklim dan Banjir di Dialog Merah Putih
Musim hujan sudah mulai datang, banjir mulai mengancam sebagian wilayah di Indonesia. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bogor untuk sebagian wilayah Bogor tercatat curah hujan mencapai 300 ml. Kondisi ini merupakan kondisi normal dan puncaknya akan berlangsung bulan Februari 2010.Demikian dikatakan Windardi Budiarjo, Kepala Station Badan Klimatologi Darmaga dalam dialog Aspirasi Merah Putih di RRI. Bogor. (5/12). Dialog Aspirasi Merah Putih merupakan kerjasama IPB dengan RRI Bogor.
Narasumber lainnya, Pakar Klimatologi IPB, Prof. Dr.Yonny Koesmaryono, MS.mengatakan pola masyarakat yang sudah menganggap biasa menghadapi banjir di wilayah yang berpotensi banjir menyebabkan tidak adanya upaya-upaya bagaimana untuk mencegah dan mengurangi dampak banjir.
Kesiapan tersebut tidak hanya berlaku untuk masyarakat tetapi juga berlaku untuk pemerintah daerah, mengingat Bogor sudah populer dengan sebutan Kota Hujan, hal ini berarti curah hujan di Kota Bogor relatif merata.
Lebih lanjut Prof. Yonny menjelaskan curah hujan dengan daya serap tidak seimbang akan menimbulkan suatu limpasan. Untuk itu dibutuhkan kesiapan infra struktur untuk menyalurkan limpasan dan genangan air melalui drainase.
Menanggapi hal tersebut, Drs. B. Sudarsono,BE dari Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bogor menyampaikan saat ini pihaknya masih memanfaatkan saluran-saluaran irigasi peninggalan Belanda, yaitu saluran induk di Kantulampa dan Cisadane.
Pelaksanaan upaya penanggulangan banjir yang sifatnya rutin sudah diadakan setiap saat. Hanya menurutnya yang menjadi kendala saat ini drainase tersebut sudah beralih fungsinya menjadi saluran irigasi.
Lebih lanjut Sudarsono menyampaikan secara teknis penyaluran air dari hulu ke hilir semakin habis tapi kenyataan di lapangan fungsi dari saluran itu berubah menjadi daerah drainase atau penggelontoran. kondisi ini berakibat struktur dari hulu ke hilir yang mestinya kecil ke besar kenyataannya kita masih memanfaatkan drainase besar ke kecil sehingga mengakibatkan daya tampung air melebihi kapasitas.
Sudarsono menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk selalu meningkatkan kesadaran akan kebersihan lingkungan. Menurutnya solusi lain yang bisa menjadi cara mengatasi banjir adalah dengan membuat kawasan reservoar/ bendungan air.
Prof. Yonny turut memberikan saran bahwa Pemda Bogor dan Jakarta harus bisa bersinergi untuk mengatasi masalah banjir ini karena air tidak mengenal batas daerah. budaya masyarakat dengan pola membuang sampah ke sungai harus segera diperbaiki dan yang terpenting lagi adalah memperbanyak daerah resapan air. (Dh)
