Lokakarya Metodologi Penelitian Agraria Bersama Prof. Tania M. Li dan Prof. Ben White

Lokakarya Metodologi Penelitian Agraria Bersama Prof. Tania M. Li dan Prof. Ben White

Berita

Transisi agraria abad XXI ditandai dengan berbagai perubahan yang melampaui batas-batas negara. Integrasi ke pasar global melalui berbagai cara ekspansi ekonomi perkebunan, termasuk reproduksi cara-cara kolonial, industrialisasi ala Cina dan masalah-masalah surplus tenaga kerja/pertambahan populasi, serta munculnya beragam aktor, seperti: korporasi transnasional, gerakan-gerakan sosial transnasional berikut berbagai varian ideologinya, melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang perubahan agraria di abad XXI. Bagaimana terjadinya kombinasi antara pekerjaan-pekerjaan on-farm dan off-farm, pola-pola migrasi, diversifikasi sumber nafkah individu maupun keluarga. Bentuk-bentuk rumahtangga pun berubah, mulai dari pergeseran-pergeseran peran dan hubungan gender, antar-generasi, dst.

Perubahan makro-mikro dalam proses transisi agraria ini tidaklah terlepas dari hubungan saling kait dan berkelindan antara perubahan agraria dengan proses-proses perencanaan pembangunan dan perencanaan wilayah, baik dari tingkat lokal sampai ke global. Kebaruan-kebaruan ini pada gilirannya menuntut suatu cara baca baru yang dengan sendirinya membutuhkan penggunaan kerangka analitik yang juga baru.

Berangkat dari perkembangan studi agraria yang semakin kompleks inilah, maka penelitian agraria dan perencanaan pembangunan wilayah di Indonesia perlu membuat aktualisasi dan kontekstualisasi yang bersepadanan dengan perkembangan kekinian. Indonesia disadari adalah wilayah studi agraria yang amat kaya yang menampilkan ragam kompleksitas di atas, namun masih terlalu miskin untuk dimanfaatkan oleh para peneliti agraria Indonesia sendiri.

Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB menghadirkan Prof. Tania Li dan Prof. Ben White dalam Lokakarya Metodologi Studi Agraria di Aula P4W IPB (24-25/7). Berasal dari studi panjang keduanya di Indonesia mengenai masalah perubahan agraria, Prof. Tania Li (Toronto University Canada) dan Prof. Ben White (ISS The Hague Netherland) telah memperkaya metodologi studi agraria Indonesia dan menghidupkan kembali kegairahan pada penelitian pedesaan.

Kegiatan lokakarya ini sendiri merupakan hasil kerja sama antara Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Jogjakarta, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat FEMA IPB, Sajogyo Institute (Sains), Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HiTI) dan PKA IPB.

Lokarya ini mengeksplorasi dan mendiskusikan tentang aspek-aspek metodologi dari studi agraria yang direpresentasikan oleh karya-karya Prof. Tania Li dan Prof. Ben White. Pembahasan berpusat pada: (1) bagaimana menghasilkan pertanyaan penelitian yang tepat; (2) bagaimana menemukan posisi pertanyaan penelitian itu dalam konteks perdebatan teori yang relevan; dan (3) bagaimana berbagai metode digunakan untuk memperoleh data yang memadai untuk menjawab pertanyaan penelitian; serta (4) bagaimana mengkaitkan satu pertanyaan penelitian dengan pertanyaan penelitian lainnya.

Pada kesempatan ini, Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo selaku perwakilan dari Dept. Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat dan Prof. Endriatmo Soetarto selaku Ketua STPN berkesempatan memberi sambutan pembuka. Acara ini dihadiri dari kalangan mahasiswa, akademisi, peneliti, aktivis gerakan sosial, dan organisasi tani.

Ceramah bertajuk “Metodologi studi agraria: dari ‘old agrarian questions’ menuju ‘new agrarian questions’” disampaikan oleh Prof Tania M. Li. Dalam ceramahnya, ia menekankan sebuah refleksi kritis terhadap cara pandang sebuah penelitian seputar isu pedesaan dan agraria yang selama ini terjebak pada cara berpikir dikotomis dan linearitas. Selain itu, Prof. Tania Li juga menyoroti laporan World Development Report tahun 2008.

Menurutnya, laporan tersebut masih berdasarkan pada pemikiran yang digunakan oleh pemikiran lama yakni, modernisasi thn 60an yang linear.

Sementara itu, Prof Ben White pada hari kedua menyampaikan pemikirannya yang bertajuk “Melacak nilai lebih : Rejim ketenagakerjaan, rantai komoditi dan bentuk-bentuk peralihan nilai lebih di pedesaan”. Dalam kesempatan ini, Prof. Ben White secara gamblang menunjukkan proses dan mekanisme ekstraksi surplus dari rumah tangga petani yang pada akhirnya menciptakan diferensiasi kelas.

Selain itu, baik Prof Tania Li maupun Prof Ben White turut memberikan masukan terhadap proposal penelitian peserta lokakarya. Lebih lanjut Tania Li memberikan empat rumusan metodologi kepada peserta, yakni : “follow the people”, “follow the Crops”, “follow the Capital” dan “follow the policies”. Melanjutkan Prof Tania Li, Prof. Ben White lebih dalam menunjukkan mekanisme ekstraksi surplus dan rute komoditas dalam sirkuit perdagangan dari rumah tangga petani.

Diakhir acara, Direktur Sains Moh. Shohibuddin mengatakan lokakarya ini merupakan babak lanjutan dari seri lingkar belajar agraria yang sudah berjalan selama 4 putaran. Dan dari pertemuan ini diharapkan terwujud kerjasama antar pelaku dalam merancang sebuah penelitian yang lebih mendalam.(*/zul)