Departemen ARL IPB Tawarkan Konsep Green City

Departemen ARL IPB Tawarkan Konsep Green City

Berita

Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian IPB, menggelar seminar Internasional, berjudul Green City "The Future Challange," (10-11/8) di Gedung IPB International Convention Center (IICC).

Simposium yang dibuka oleh Rektor IPB, Prof. Dr. Hery Suhardiyanto, M.Sc. ini, menghadirkan Keynote Speaker, Menteri PU RI, Ir. Djoko Kirmanto, Dipl. HE., dengan invite speaker, Prof. Dr. Yoritaka Tashiro, Chiba University-Japan, Prof. Dr. Jorg Rekittake, Director of MLA program (National University of Singapore), Diane Wildsmith, M.Sc., Visiting Asistant Professor of UI and Commissioner of PT. IDC., Dr. Deni Ruchyat, M.Eng, dari Kementrian PU RI.

"Konsep Green City, adalah sustainable city, atau ecocity, dimana kota itu dibangun secara berkelanjutan. Kota berkelanjutan ditandai dengan minimnya musibah lingkungan, polusi udara rendah, bebas banjir, rendah kebisingan dan sebagainya. Detailnya adalah bagaimana membuat sebuah planning atau design dimana kebutuhan keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) itu bisa terpenuhi. Apalagi ada UU baru yang mewajibkan setiap kota dan kabupaten memiliki RTH 30 %, itu sudah link and match," ujar Ketua Pelaksana, Dr. Alinda F Medrial Zain.

Ia mengatakan IPB sudah punya konsep green city dan telah banyak riset tentang itu. Misalnya penanganan terhadap kota-kota yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia, yang memerlukan penangannya khusus, tidak bisa disamaratakan, tergantung dari karakteristik kota dan fungsinya.

"Penanganan RTH satu kota dengan kota lainnya tidak bisa di samaratakan, tiap-tiap daerah memerlukan kajian tersendiri. Setidaknya harus diketahui tentang karakteristik lokal, iklim makro, dan sebagainya. Misalnya, daerah pegunungan RTH difungsikan untuk menahan longsor dan erosi, di pantai untuk menghindari gelombang pasang, tsunami, di kota besar untuk menekan polusi udara, serta di perumahan, difungsikan meredam kebisingan. Jadi RTH di masing-masing kota memiliki fungsi ekologis yang berbeda. Itu, yang di dalam konsep green city harus dipahami," ujarnya.

Melaui simposium ini ia mengharapkan ada sebuah kebiasaan yang tumbuh diantara para peneliti yaitu kebiasaan untuk sharing hasil riset, yang dirasakannya masih kurang. Bukan itu saja simposium ini juga diharapkan menjadi medianya untuk sharing tersebut terutama di bidang urban lanskap, rural lanskap, dalam rangka mewujudkan green city.

Simposium ini dihadiri ratusan peserta dari berbagai bidang, yaitu perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan, swasta, pemerintah daerah dan kota, mahasiswa dan lainnya. (man)