Virus Influenza Tipe A H1N1 Lestari Dalam Unggas Air
Gelar Dokter Hewan membawa konsekuensi yang berat. Masih segar dalam ingatan kita, merebaknya virus flu burung pada unggas. Flu yang sedianya hanya dapat menular antar unggas, ternyata sudah ditemukan suspect flu burung terhadap manusia. Sekarang dokter hewan dihadapkan dengan virus influenza A Serotipe H1N1 atau flu babi yang tak kalah ganasnya.
Menurut Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Dr.drh. I Wayan Teguh Wibawan, dokter hewan saat ini tengah dihadapkan pada permasalahan penting yakni soal penyediaan protein hewan bagi masyarakat, penanggulangan penyakit menular pada hewan, penanggulangan penyakit zoonosis yang semakin kompleks, penolakan penyakit enzootik yang bisa masuk dan mengancam negara.
Disamping itu, dokter hewan juga mempunyai tugas penting dalam mengkomunikasikan sebuah informasi. Saat ini yang terjadi adalah adanya pemberitaan yang tidak proporsional dan imbang tentang flu babi.
”Sebenarnya dikatakan flu babi karena menggunakan babi sebagai tempatnya, padahal virus influenza A serotipe H1N1 ini lestari di unggas air atau bahkan bisa dikatakan abadi di unggas air dan tanpa menimbulkan gejala sakit pada unggas tersebut, sehingga virus ini pun bisa juga disebut flu burung” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Pemberian Ijazah dan Pengucapan Sumpah Dokter Hewan Baru Tahap I tahun 2009 di Auditorium Jannes Huttasoit, Kampus IPB Darmaga (19/5).
Dr. Wayan menambahkan bahwa andaikata dianalogikan dengan bank, yang menjadi bank sentralnya adalah unggas air tersebut, sedangkan babi hanya seperti BCA atau BNI.
”Virus ini menjadi lebih ganas karena di dalam tubuh babi, virus ini dapat saling pinjam meminjam senjata dalam 8 genom yang disebut proses reasurtan. Jadi pemasalahan ini harus dipahami secara proporsional dan kita sebagai Dokter Hewan tidak ikut-ikutan paranoid. Mudah-mudahan virus ini tidak ditemukan di peternakan kita.” jelasnya dihadapan 70 Dokter Hewan Baru yang diambil sumpahnya pada hari itu.
Senada dengan Dr. Wayan, Rektor IPB, Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc dalam sambutannya menyatakan isu tersebut merupakan tantangan besar bagi para Dokter Hewan di seluruh dunia. “Penanganan medis terhadap manusia (dalam hal ini pasien zoonosis) memang penting, namun penanganan terhadap sumbernya (hewan) juga tidak kalah penting. Karena itu, peran Dokter Hewan sangat strategis khususnya dalam kesehatan masyarakat veteriner, kesehatan hewan serta keamanan pangan,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Wayan juga menjelaskan tentang pentingnya fakultas dalam meningkatkan kualitas mutu, yakni dengan bersepakat untuk mulai menapaki akreditasi internasional. Akreditasi Internasional ini akan dilakukan pada 25-28 Mei mendatang dengan mengundang assesor dari Australia dan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan seluruh Indonesia serta Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).(zul)
