Usaha Mikro Kecil dan Usaha Pertanian, Tanggulangi Dampak Krisis

Usaha Mikro Kecil dan Usaha Pertanian, Tanggulangi Dampak Krisis

Berita

Dr. Ir. B.S. Kusmuljono, MBA berhasil meraih gelar Doktornya di Institut Pertanian Bogor. Disertasinya mempersembahkan Model Hybrid Microfinancing. Dalam bukunya yang berjudul “Menciptakan Kesempatan Rakyat Berusaha” yang diterbitka IPB Press, Dr. Kusmuljono berusaha menyatakn bahwa Model Hybrid Microfinancing yang realisasinya dalam bentuk skema KUR Mikro atau Linkage Bank LKM, dapat dijadikan acuan upaya penciptaan kesempatan kerja.

 

“Minat saya yang besar terhadap model pengembangan usaha mikro didorong oleh kenyataan bahwa negeri ini terdapat banyak orang yang berusaha mandiri dengan skala usaha mikro. Jumlah mereka mencapai sekitar 40 juta orang, yang apabila dihitung bersama anggota keluarganya maka mereka menghidupi lebih dari 150 juta orang,” ujar Dr. Kus, demikian ia biasa dipanggil, di hadapan peserta Lokakarya Nasional bertajuk “Upaya Penanggulangan Dampak Krisis Finansial Global Terhadap Sektor Pertanian dan Pedesaan” di IPB International Convention Center (15/5).

 

Model Hybrid Microfinancing didasari asumsi pokok bahwa pembiayaan usaha mikro yang terkait dengan upaya pengentasan kemiskinan dan perluasan lapangan pekerjaan, khususnya di sector pertanian, memerlukan sinergi sumber dana, yaitu : anggaran pemerintah melalui APBN/APBD dan tabungan masyarakat (dana Pihak Ketiga) melalui mekanisme perbankan.

 

“Perkuatan modal dan efisiensi bisnis dari usaha mikro di sektor pangan dan pertanian dalam arti luas menjadi sangat penting dan diprioritaskan pada strategi pembangunan nasional. Kesemua itu bermuara pada pemantapan kebijakan publik yang sinergi dan terkoordinasi dengan efektif melalui lembaga pemberdayaan usaha mikro,” ujarnya.

 

Adapun kebijakan keuangan mikro, perlu dilakukan pemerintah. Pada kesempatan ini, Dr. Kus merekomendasikan kebijakan yang mensinergikan dana KUR Mikro yang bersumber dari Bank dengan dana Program Kementrian/Departemen dengan subsidi bunganya, menetapkan instansi yang mengurusi usaha mikro termasuk LKM-nya, dan mendorong terbentuknya Apex LKM seperti Apex BPR, dan Apex KSP. 

Selain itu, menurutnya pertanian yang berdaya saing seperti produk industri pangan yang siap jual menjadi landasan dari ketahanan ekonomi bangsa. Hal ini terkait dengan krisis keuangan glogal sejak 2008 lalu. Krisis global memberi banyak pelajaran dimana negara maju terutama Amerika Serikat sebagai negara pencetus krisis, dituntut kembali kepada basic ekonomi yaitu usaha mikro kecil (UMK) dan usaha pertanian.  

“Dari sisi pengembangan pasar, krisis ini juga mengajarkan kita untuk mendayagunakan pasar domestik dan tidak tergantung hanya kepada pasar glogal,” tambahnya. 

Saat ini, selain dipercaya sebagai anggota Majelis Wali Amanat IPB, Dr. Kus juga menjabat sebagai Komisaris Independen Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Chairman Center for Policy Reform Indonesia (CPR-Indonesia) serta menjabat sebagai Ketua Komite Nasional Pemberdayaan Keuangan Mikro Indonesia (Komnas PKMI).(zul)