“Bapak Pemberdayaan” Hadir di R-Dissi P2SDM IPB

“Bapak Pemberdayaan” Hadir di R-Dissi P2SDM IPB

Berita

web_02R-Dissi adalah diskusi bulanan yang digawangi Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia (P2SDM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB.  Kali ini diskusi menghadirkan “Bapak Pemberdayaan” Prof. Haryono Suyono. Mantan Menteri Koordinator  Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan (Menko Kesra dan Taskin) ini kini aktif menggerakkan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di berbagai wilayah di Indonesia.

Kepala P2SDM IPB, Dr.Ir. Illah Sailah, MSc mengatakan dari diskusi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan Program Go Field yang digulirkan IPB tahun lalu.  “Program Go Field bisa saja nantinya diintegrasikan dengan berbagai program Posdaya yang penuh nuansa pemberdayaan, “ tandasnya.  Lebih lanjut dikatakannya, jika Go Field berbasis pemberdayaan ini dijadikan program IPB, maka tak menutup kemungkinan program semacam ini bisa menjadi model nasional, bahkan internasional.  “Seperti yang dilakukan UGM dimana perguruan tinggi tersebut telah memasukkan aktivitas pemberdayaan dengan pendampingan mahasiswa ke dalam kurikulumnya, “ jelasnya.

Prof. Haryono Suyono pada kesempatan tersebut memaparkan perjalanan sejarah munculnya berbagai kegiatan pemberdayaan, mulai dari inisiasi di level internasional hingga implementasinya di berbagai negara termasuk Indonesia.  Terkait dengan Posdaya yang digawanginya, Prof. Haryono Suyono berkisah, mengapa gerakan ini dinamakan pos, menurutnya karena gerakan ini bisa dimulai dari apa saja: dari masjid; dari ladang; dari peternakan; dari arisan ibu-ibu?  “Posdaya adalah proses mendidik masyarakat supaya orang mau sekolah, orang mau sehat, orang mau buat koperasi agar ekonomi mereka meningkat.  Program ini pun bisa sinergi dengan program-program yang digulirkan pemerintah seperti Desa Sehat, Desa Siaga, Desa Mandiri, “ jelasnya. 

 

Dicontohkannya, saat ini Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) bekerjasama dengan Yayasan Damandiri menggarap 1300-1500 Kuliah Kerja Nyata berbasis Posdaya (KKN Posdaya) dengan target membentuk 100 Posdaya.  “Para Kepala Bapedda saat itu diundang ke kampus Unsoed  untuk mendapatkan gambaran strategisnya gerakan Posdaya ini, “ tandasnya.  Tentang Go Field IPB, Prof. Haryono Suyono mengatakan, Go Field bisa menjadi lahan pengabdian keilmuan yang luar biasa bagi masyarakat, sehingga IPB bisa lebih disenangi masyarakat. Jika Go Field IPB berhasil, program ini bisa menjadi contoh menarik bagi institusi lainnya.   

 

 

Wakil Kepala LPPM IPB bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Ir. Prastowo mengatakan, “Tujuan umum Go Field IPB pada intinya adalah IPB ingin melakukan suatu proses belajar bersama masyarakat.  Dengan Go Field, para mahasiswa diharapkan mendapat feed back untuk meningkatkan kemampuannya. Go field bisa dibuat terstruktur dan tersistem, namun apakah itu masuk kurikulum atau tidak, butuh kebijakan sendiri.”

Ketua Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB, Dr.Ir. Hartoyo yang hadir dalam diskusi ini menyatakan apresiasinya terhadap Posdaya.  “Posdaya ini menarik.  Pada dasarnya Departemen IKK ingin memberikan bekal pada mahasiswa untuk terjun dalam pemberdayaan semacam ini dalam konteks IKK.  Harapannya, mahasiswa sebelum lulus ada kesempatan untuk bisa mendirikan atau mengelola PAUD atau kegiatan pemberdayaan keluarga lainnya. Posdaya ini menarik karena langsung ke jantung HDI (Human Development Index-red), “ ungkapnya.

Sementara itu menurut Ir. Kasno, MSi (Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB),  belajar dari pelaksanaan KKN selama ini, misi yang mestinya diusung adalah community development.  Sementara selama ini lebih fokus pada transformasi teknologi.  “Dalam KKN sebaiknya lebih banyak menyentuh personality masyarakat, bagaimana perilaku masyarakat itulah yang dibina sebagai bagian dari community development, “ tandasnya.  Dikatakannya,  Fahutan IPB dalam waktu dekat  akan mengembangkan model community development di desa-desa sekitar kampus IPB.

Tawaran bagi pengembangan Posdaya pun datang dari departemen maupun pusat yang ada di IPB.  Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN) Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta), misalnya akan men-support teknologi yang menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti teknologi kompos, pengemasan, dan lain-lain.  Hal ini diungkap oleh Ketua Departemen TIN, Prof. Dr. Nastiti Indrasti.  Demikian juga Pusat Studi Surfaktan dan Bioenergi, siap membantu menangani persoalan energi di masyarakat.  Hal tersebut ditandaskan oleh penelitinya, Dr. Ir. Endang Warsiki.  Masukan lain datang dari para peserta yang hadir pada diskusi ini yakni dari mahasiswa pendamping Posdaya, para Ketua Posdaya, perwakilan dari departemen dan pusat-pusat di IPB,  serta para peminat pemberdayaan masyarakat. (nUr)