Dr.Steven L.Garret Sampaikan Kuliah Umum TermoAucoustics di IPB

Dr.Steven L.Garret Sampaikan Kuliah Umum TermoAucoustics di IPB

Berita

 

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor (PPLH-LPPM IPB) menyelenggarakan kuliah umum ThermoAcoustics: Environmental Technology to Create a "Green" Chiller Kamis (11/12) di Kampus IPB Darmaga. Kuliah ini disampaikan Dr. Steven L. Garrett  mengambil judul Thermoacoustics: A heat engine technology that sounds good, dengan fokus pada proses pendingingan (refrigeration) dan mesin pendingin (refrigerator).

 

Kuliah ini dihadiri  54 peserta, yang terdiri dari dosen, mahasiswa, peneliti dan dua orang perwakilan Kedubes Amerika Serikat  yakni Beth Spelsberg dan Pirina Vindiartha . Kuliah ini dimoderatori Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Dr. Garrett memulai kuliahnya dengan menyebutkan kesulitan-kesulitan pengawetan makanan sebelum adanya mesin pendingin.  Namun, setelah ditemukan mesin pendingin (lemari es/kulkas), masalah-masalah pengawetan makanan, bahkan masalah-masalah kesehatan dapat diatasi. 

 

"Mesin pendingin menggunakan bahan kimia sebagai bahan pendinginnya, seperti CFC, atau biasa kita sebut Freon.  Di kemudian hari diketahui bahan kimia ini berakibat buruk bagi lingkungan hidup manusia, yaitu menipisnya lapisan Ozon," kata Dr. Garret. Tidak menutup kemungkinan juga bahan-bahan kimia lainnya pun berakibat buruk bagi lingkungan.  Oleh karena itu, sejak pertengahan 1980an Dr. Garrett, dkk. memulai penelitian-penelitian yang tujuannya mencari pengganti dan menghentikan penggunaan bahan kimia untuk pendinginan.  Montreal Protocol kemudian menetapkan  CFC adalah illegal penggunaannya.

 

Dr. Garrett menjelaskan  bidang yang sedang digelutinya selama ini, yaitu thermoacoustics. Dr. Garret  mendemonstrasikan thermoacoustics secara sederhana, dengan menggunakan tabung reaksi yang diberi gabus dan  dipasang kawat berlistrik yang  menghasilkan suara.   Dr. Garret menjelaskan perbedaan mesin pemanas dan mesin pendingin. "Mesin pemanas menggunakan panas untuk menghasilkan kerja atau tenaga, maka prinsip dasar mesin pendingin adalah menggunakan kerja/tenaga untuk memindahkan panas. Dengan teknologi thermoacoustics, mesin pendingin menggunakan suara (sound) untuk memindahkan panas."

 

Mesin pendingin thermoacoustics telah digunakan pesawat luar angkasa Discovery (STS-42) pada Januari 1992 dan Ford Motor Co.  Penelitian Dr. Garrett, dkk. tentang ThermoAcoustics Life Sciences Refrigerator dibiayai  NASA dihentikan pada tahun 1993, karena kekurangan dana. Namun demikian, Dr. Garrett, dkk. tidak berputus asa dan terus mengembangkan penelitian tentang thermoacoustics diantaranya untuk kapal laut, high-power thermoacoustics chiller yang dibiayai oleh Office of Naval Reserach, dan bersama para mahasiswanya mengembangkan thermoacoustics refrigerators untuk es krim. 

 

Keuntungan utama mesin pendingin thermoacoustics adalah ramah lingkungan.  Kelemahannya, pengembangan mesin pendingin thermoacoustics masih kekurangan sumberdaya manusia, terutama mahasiswa yang belajar tentang thermoacoustics dan belum adanya komersialisasi dikarenakan kendala dana.  Di akhir kuliah umum, Dr. Garrett berpesan  seharusnya kita terus mengembangkan dan membuat perangkat keras (hardware) yang sesuai dengan peraturan lingkungan.  "Memang tidak mudah untuk menjadi "hijau," demikian Dr. Garrett mengutip kata-kata Kermit the Frog dari Sesame Street.

 

Dalam sesi diskusi, moderator menanyakan tentang kemungkinan adanya bantuan dari Kedubes Amerika Serikat bagi mahasiswa IPB untuk memperdalam ilmu thermoacoustics yang bermanfaat bagi ilmu-ilmu pertanian.  Dr. Garrett menyatakan, saat ini sedang dirancang suatu program pendidikan pascasarjana untuk universitas-universitas yang tergabung dalam ASEAN University Network, dimana mahasiswa pascasarjana dari universitas-universitas ini dapat mengikuti kuliah, mengumpulkan tugas-tugas dan kemudian mendapatkan nilai, semua dilakukan dengan menggunakan internet secara online.  Sedang dirancang juga dalam sistem ini suatu sandwich program, dimana mahasiswa yang telah mengikuti kuliah lewat internet dapat pergi ke Amerika Serikat dalam waktu 6-9 bulan untuk melakukan penelitian di laboratorium.  Dr. Garrett melalui Kedubes Amerika Serikat akan menindaklanjuti rencana tersebut, dan mengharapkan agar IPB dapat memanfaatkan kesempatan ini. (ekd/ris)