Fahutan IPB Gelar PIKNAS IV
Pengurus Cabang Sylva Indonesia, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar Pekan Ilmiah Kehutanan Nasional IV (PIKNAS IV) dengan mengadakan Simposium Nasional “Evaluasi Pengelolaan Hutan Menuju Hutan Lestari” Senin (20/10), di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga, Bogor.
Kegiatan yang berlangsung 20-27/10 itu dibuka langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryyono, MS, disaksikan oleh Staf Ahli Menteri Kehutanan, Dr. Ahmad Faudzi Mahfud yang juga Ketua Sylva tahun 1972. Mewakili Dekan Fahutan IPB, Handian Purwawangsa, S. Hut, MSi, Ketua Sylva Indonesia PC IPB, Riva Fahrul Rodzi serta pejabat IPB dan pejabat Pemerintah lainnya.
Simposium nasional ini diikuti oleh Universitas Kuningan, Universitas Lampung, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Tanjung Pura.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Rieka Setia Budi mengatakan, kegiatan ini merupakan sebuah bentuk respon mahasiswa Fahutan terhadap permasalahan yang bergulir saat ini.
“Mahasiswa memiliki peranan yang penting dan sebagai agen perubahan terhadap permasalahan kehutanan. Dengan adanya kegiatan ini kita mencoba melakukan pembenahan kehutanan ke arah yang lebih baik menuju pengelolaan hutan tropikal yang lestari,” ujarnya.
Rieka mengharapkan, hasilnya nanti dapat menyumbangkan pemikiran dan memberikan perubahan mendasar dalam bidang kehutanan.
Sementara itu, Handian dalam sambutannya mengatakan, pengelolaan hutan yang lestari harus memperhatikan 3 aspek yaitu, ekologi, produksi dan sosial.
“Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Kehutanan tidak hanya dilihat dari segi ekonomi saja, namun ada fungsi lain yang jauh lebih penting. Saya mengharapkan hasil akhir kegiatan ini dapat menghasilkan rumusan yang jauh lebih baik dalam memecahkan persoalan dari ketiga aspek itu,” katanya.
Sebelum membuka kegiatan ini, Prof. Yonny dalam sambutannya, menyoroti masalah SDM kehutanan dan konsep hutan lestari yang akan dirumuskan nanti. Beliau mengharapkan rumusannya nanti dapat memecahkan segala permasalahan kehutanan yang selalu berulang-ulang terjadi di Indonesia ini. Seperti kebakaran pada saat kekeringan dan banjir di saat musim hujan.
“Bagaimana caranya menemukan konsep yang tepat dalam memecahkan permasalahan tersebut. Bukan itu saja, kita juga harus memikirkan bagaimana caranya agar hutan kita bisa menjadi hutan karbon tapi tidak menggadaikan diri sendiri. Itu harus disiasati,” ujarnya.
Prof Yonny juga memprihatinkan turunnya minat lulusan SMU terhadap bidang pertanian khususnya kehutanan, yang mengakibatkan minimnya SDM dalam bidang ini.
“Terlepas dari IPB, ada salah satu perguruan tinggi di Kalimantan yang hanya memiliki kurang dari 10 mahasiswa dalam Fakultas Kehutanannya, malahan perguruan tinggi lain tidak memiliki mahasiswa,” katannya. Untuk itu, Prof. Yonny menghimbau, para rimbawan memberikan pemahaman yang baik tentang kehutanan kepada masyarakat dan generasi di bawahnya, agar tercipta generasi-generasi baru yang berkualitas,” ujarnya.(man)
