Membangun Sinergi “ABG” Untuk Komersialisasikan Alsintan Lokal

Membangun Sinergi “ABG” Untuk Komersialisasikan Alsintan Lokal

Berita

Argo Machinery Industrial Interface (AMIn) Unit bekerjasama dengan Departemen Teknik Pertanian (TEP) IPB dan Pusat Pengembangan Ilmu Teknik untuk Pertanian Tropika (CREATA) LPPM-IPB menggelar workshop yang mengangkat tema "Membangun Sinergi "ABG" dalam Komersialisasi Hasil Litbang Alsintan Lokal Dalam Negeri" bertempat di ruang Sidang Rektor, Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga (6/8).

Workshop dibuka oleh Kepala Departemen TEP IPB, Dr. Ir. Wawan Hermawan, M.S "Departemen TEP sangat berkepentingan dengan hasil lokakarya ini karena hasil-hasil penelitian diharapkan dapat direalisasikan dan dikomersialisasikan untuk masyarakat dan industri. Dari pengalaman, sinergi ABG masih ada ganjalan yakni dalam hal mengkomersialisasikan produk, standarisasi produk dan hak atas kekayaan intelektual produk tersebut. Jadi harus ada kesepakatan bersama dalam pengembangan alat dan mesin pertanian (alsintan) dalam negeri melalui sinergi yang bagus dalam meningkatkan sekaligus memanfaatkan alsintan," ujar Dr. Wawan dalam sambutannya.

Acara menghadirkan pemakalah yakni, Ketua AMIn Unit-IPB, Dr. Ir. Radite P.A. Setiawan, M.Agr., Kepala Balai Pengujian Mutu Alsintan Departemen Pertanian, Ir. Wahyu Subandrio, Direktur Industri Mesin Departemen Perindustrian, Ir. C. Triharso, Kepala Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian, Ir. Rudi Tjahjohutomo, MT, Direktur PT. Metavisi Sentra Integra, Dr. Ir. Adhi S. Soembagijo, MSME, Sekretaris CREATA-LPPM IPB, Dr.Ir. Usman Ahmad, M.Agr.

Hadir juga Kepala CREATA LPPM-IPB, Prof. Dr. Ir. Tinneke Mandang, M.S yang berkesempatan menjadi moderator dalam sesi pertama. Dan dosen TEP Dr. Ir. M. Faiz Syuaib, M.Agr memoderatori sesi kedua.

"AMIn Unit menjadi interface untuk mempromosikan kerjasama riset dalam manufaktur alsintan antara universitas, produsen, pengguna alsintan dan pemerintah daerah. Perguruan tinggi sebenarnya punya potensi seperti penelitian dosen, mahasiswa pascasarjana dan juga akses namun juga punya kekurangan dalam hal dana riset dan pengembangan, kapabilitas manufaktur, pemasaran dan post sales service serta jejaring," jelas Dr. Radite di depan peserta yang terdiri dari dosen TEP, mahasiswa pascasarjana dan mitra AMIn Unit.

Dari pemaparan Ketua AMIn Unit, disebutkan sudah lima produk dari AMIn Unit yang dimitrakan yakni: pengering rotary tipe lorong dan pengering rotary tipe batch (bermitra dengan PT. Intan Prima Kalorindo), roda besi sirip lengkung untuk lahan kering (siap dikomersialisasikan), aplikator pupuk organik plus bajak getar dan aplikator pupuk cair (bermitra dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia).

Sementara itu, Rektor IPB, Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc menyampaikan tiga usulan yakni, pertama, perlu identifikasi faktor penghela yang bisa menarik riset, aplikasi yang berkelanjutan untuk industri menjadi satu putaran yang semakin cepat untuk meningkatkan volume permintaan. Dari kelima produk AMIn Unit, mana yang paling utama atau paling banyak permintaan, itulah yang harus digenjot untuk jadi penghela.

Kedua, kita bisa mengembangkan lebih lanjut pada konteks yang lebih luas yang terkait dengan permintaan yang jelas-jelas besar, misal industri kelapa sawit dimana industri ini adalah bidang yang saat ini terus berkembang. Diharapkan, AMIn Unit dapat menggagas kemungkinan ini sebagai peluang untuk mengembangkan mesin-mesin atau komponen-komponen yang dapat digunakan dalam industri kelapa sawit.

Ketiga, tema yang diangkat dalam workshop ini sangat perlu untuk direalisasikan agar akademisi mudah dalam mengembangkan gagasan-gagasannya. Perlu network yang kuat dengan departemen perindustrian agar dapat menjadi kebijakan nasional sehingga jadi penghela kapasitas produksi.

"Apa yang sudah dicapai AMIn ini, IPB akan mendukung sepenuhnya agar interface ini diperkuat dan diperbesar lagi," tandas Rektor.(zul)