IPB Tuan Rumah Seminar Internasional Matematika dan Statistik

IPB Tuan Rumah Seminar Internasional Matematika dan Statistik

Berita

dsc_0163_400Indonesia kembali menjadi tuan rumah Seminar Internasional Matematika dan Statistik. Sebelumnya pertemuan pertama digelar di Bandung, kedua di Malaysia dan yang ke tiga kembali di Indonesia yaitu di IPB. Seminar digelar selama dua hari (5-6/8) bertempat di Novotel Corolia Bogor.

Seminar Internasional berjudul "3rd International Conference on Mathematic and Statistics" ini terselenggara berkat kerjasama Departemen Statistik FMIPA IPB, Departemen Matematika FMIPA IPB, Department of Mathematics University Malaysia Trengganu dan Moslem Statisticans and Mathematicians Society in South East Asia (MSMSSEA).

Seminar dibuka oleh Rektor IPB Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc., ditandai dengan pemukulan gong dan disaksikan President of MSMSSEA, Prof. M. Djauhari dan Naib Canselor Universiti Malaysia Terengganu, Prof. Dato' Dr. Sulaiman bin Md. Yassin. Hadir perwakilan dari 10 negara diantaranya: Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Saudi Arabia, Iran, Libya, Jepang, Australia, USA dan tuan rumah Indonesia. Selain seminar juga dilangsungkan penandatangan memorandum of understanding (MoU) di bidang riset dan pendidikan pimpinan kedua institusi.

Rektor IPB mengharapkan, acara tahunan ini dapat dijadikan sebagai wahana tukar informasi terkait metode-metode baru di bidang statistika dan matematika khususnya yang terkait dalam bidang pertanian. "Ada banyak aplikasi statistik dan matematika dalam kehidupan, terutama model-model optimasi, peramalan dan hubungan antar variabel dari suatu permasalahan. Sekarang bagaimana caranya menemukan model baru dalam memecahkan permasalahan dalam masyarakat diantaranya dalam bidang peramalan dan produksi," papar Rektor.

Ditambahkan oleh President of MSMSSEA, Prof. M. Djauhari mengatakan, pertemuan internasional statistik dan matematika diharapkan dapat membangun suatu keterpaduan diantara keduanya, dan dapat memberikan sumbangan kepada negara, terutama dalam bidang pendidikan. Terkait statistik, ia mengkiritisi kultur yang kurang kondusif di Indonesia yang juga terjadi di Korea Utara. "Kultur tidak baik ini menjadi salah satu penghambat para pengucur dana dunia untuk enggan mengalirkan dananya terutama di Asia Timur dan Tenggara. Hal ini terjadi karena ketidaksesuaian data di tingkat lapangan dan pusat," katanya.

Dikatakannya, perguruan tinggi di Indonesia khususnya bidang statistik tidak mem-back up pemerintah sepenuhnya. Dari seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia hanya 8 PT yang memiliki jurusan statistik dan itu pun terfokus di Pulau Jawa, dan hanya satu yang membantu pemerintah yaitu sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). "Seharusnya di setiap provinsi yang terdiri dari 270 ribu desa, 5 ribu kecamatan, 420 kabupaten dan 33 provinsi sebaiknya ada satu STIS. Dan semuanya itu didukung dengan political will yang kuat disamping juga pendanaan," katanya. (man)


"