Menristek Tinjau Kebun Rusnas Buah IPB
Menteri Negara Riset dan
Teknologi, Dr. Kusmayanto Kadiman didampingi Rektor IPB, Dr.Ir.Herry
Suhardiyanto, M.Sc, dan peneliti Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) IPB meninjau kebun
Riset Unggulan Strategis Nasional (Rusnas) buah-buahan Selasa (29/7) di Tajur.
Dalam kunjungan kerja Rusnas IPB tersebut, Dr. Kusmayanto
melihat secara langsung tanaman buah-buahan seperti nanas, pisang, cabai, manggis,
rambutan, pepaya, melon, manggis hasil Rusnas buah IPB. Prof. Kusmayanto sangat
menghargai keberhasilan buah-buahan riset IPB.
Sesekali Dr. Kusmayanto dan rombongan menghentikan langkahnya untuk
mendiskusikan buah-buahan tropis Indonesia. "Buah-buahan tropis Indonesia potensial untuk
diekspor ke manca negara. Ini merupakan tantangan bagi kita semua bagaimana
menghasilkan buah-buahan kualitas ekspor sesuai dengan kebutuhan masing-masing
negara tujuan." Oleh karena itu diperlukan penelitian buah sesuai dengan
keinginan negara impor. " Jangan sampai kita meneliti berbagai buah unggul, namun belum tentu diminati
konsumen."
Dr. Kusmayanto mencontohkan karakteristik buah melon untuk ekspor ke
Jepang berbeda dengan melon untuk ekspor Singapura. " Penduduk Jepang suka
melon yang lembut dan enak "diemut", sedangkan
penduduk Singapura suka yang krispy atau renyah."
Menyinggung perlindungan kekayaan intelektual dan biodiversity Indonesia, Dr.
Kusmayanto mengatakan diperlukan pembuktian fisik, kimia, biologi dan
sosio-antropologi. Misalnya, jamu
dari asal kata jampi dan husodo. Begitu
pula batik yang berasal dari kata jawa amba dan titik. Amba berarti menulis.
Titik berarti titik. Batik memiliki arti menulis titik. "Bukti sosio-antropologi batik,
keris dan jamu menunjukkan keduanya asli milik khasanah Indonesia."
Saat ini Indonesia juga sedang menelusuri jejak varietas manggis dan
temulawak yang sebenarnya merupakan tanaman asli Indonesia. Manggis diklaim
tanaman asli Malaysia. Temulawak sedang diklaim tanaman asli India.
Menurut Dr. Kusmaryanto, belajar dari Taiwan, tak masalah kita
menyesuaikan diri dengan menggunakan label setempat. "Tentu lebih baik
lagi, sekiranya baik mulai penelitian,
budidaya, pengepakan, dan ekspor Indonesia sendiri yang melakukan."
Negara-negara AsiaAfrika pada ulang tahun Konferensi Asia Afrika ke-50
bersepakat melindungi pengetahuan tradisional
dan keanekaragaman hayati.
Terkait anggaran penelitian, Dr. Kusmaryanto merencanakan penggabungan dana
program insentif dan Rusnas. Penggabungan anggaran ini bertujuan agar
penelitian bersifat strategis, efektif, terarah dan bermanfaat. "Kita tidak
ingin pemerataan anggaran penelitian bagi semua pihak, namun penelitiannya tak
menghasilkan kontribusi sesuai harapan."
Mantan Rektor Institut Teknologi Bandung ini menekankan tiga keberhasilan riset. Pertama, riset harus berkontribusi dalam dunia
akademik minimal bisa dimuat di jurnal
internasional. Kedua, riset berkontribusi pada sektor ekonomiyakni mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi nasional. Ketiga, riset mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Rektor IPB, Dr.Ir. Herry Suhardiyanto menambahkan peran IPB penting dalam melaksanakan Rusnas pada tiga
bidang yakni buah-buahan, diversifikasi pangan dan pengembangan industri kelapa
sawit." RUSNAS IPB merupakan salah satu bentuk kontribusi untuk menyelesaikan
krisis pangan, energi bangsa ini."
Usai mengelilingi kebun rombongan Menristek dan Pimpinan IPB mengunjungi
stand-stand pameran.
Dalam kesempatan itu, masing-masing perwakilan Rusnas IPB menyampaikan
presentasinya antara lain: Dr. Sobir (Rusnas buah tropika), Dr. Ratih Dewanti
(Rusnas Diversifikasi Pangan) dan Dr. Lilis Nuraida (RUSNAS Industri Kelapa
Sawit). Disamping itu disampaikan pula laporan 27 penelitian Program Insentif
Kementrian Negara Riset dan Teknologi yang diperoleh IPB tahun 2008 oleh Wakil
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB. Prof. Ronny Rachman
Noor. Acara ini yang diselenggarakan di Auditorium Pusat Studi Regional
Penelitian Biologi Tropis (SEAMEO BIOTROP) Tajur, dimoderatori oleh
Kepala LPPM IPB, Prof. Bambang Pramudya. (ris)
