Pengambilan Sumpah 63 Dokter Hewan IPB

Pengambilan Sumpah 63 Dokter Hewan IPB

Berita

Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB) kembali mempersembahkan lulusan terbaiknya dengan melantik dan mengambil sumpah 63 dokter hewan, Senin (9/6) dalam Upacara Pengambilan Sumpah Dokter Hewan Baru FKH IPB Tahap 1 tahun 2008, di Kampus IPB Darmaga Bogor.

Dalam sambutannya, Rektor IPB Dr.Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc., menitipkan lima pesan terhadap dokter hewan baru ini, yaitu: Pertama, dokter hewan harus siap menghadapi era perdagangan bebas seperti AFTA, APEC dan WTO. Kedua, harus siap terjun ke seluruh penjuru nusantara untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan hewan yang sampai saat ini jumlahnya masih belum mencukupi. Ketiga, harus siap mengembangkan paradigma baru kesehatan hewan dimana orientasi kesehatan haruslah berkembang dari kesehatan individu ke kesehatan kelompok. Keempat, harus siap menghadapi dinamika pasar jasa medis veteriner yang cenderung semakin professional. Kelima, dokter hewan harus mampu melakukan transaksi terapetik secara etis, logis, proaktif dengan tetap memperhatikan sistem kesehatan hewan nasional.

" Saya yakin saudara dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Selama menuntut ilmu di FKH IPB, saudara telah diberi bekal yang memadai. Selama ini FKH-IPB telah dikenal sebagai penghasil dokter hewan berkualitas, termasuk Saudara yang diambil sumpahnya pada hari ini," ujar Rektor IPB.

Sementara itu Dekan FKH IPB, Dr.drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS., dalam sambutannya menyoroti peranan strategis dokter hewan karena berada pada lini terdepan dalam penanggulangan penyakit zoonosis (penyakit yang ditularkan hewan ke manusia atau sebaliknya), yakni dengan menyediakan hewan ternak yang bebas penyakit agar tidak terjadi kasus penularan pada manusia. Beberapa diantara zoonosis yang terpenting adalah Avian Influenza, Bovine spongioform Encephalopathy (BSE) atau Sapi Gila, Typhus dan SARS serta masih banyak lagi yang lainnya.

"Meskipun banyak kemajuan yang telah dicapai melalui penelitian dan pengobatan abad ke-20, namun penyakit infeksi masih merupakan ancaman kematian umat manusia, dan ini disebabkan oleh 3 hal, pertama timbulnya penyakit-penyakit infeksi baru, kedua timbulnya penyakit-penyakit infeksi lama, dan ketiga persistensi penyakit-penyakit infeksi yang bandel," kata dekan.

Menurutnya, "Emerging diseases" adalah munculnya wabah penyakit-penyakit yang sebelumnya tidak dikenal, yang kasusnya pada manusia meningkat secara nyata dalam kurun waktu dua dekade terakhir.

"'Re-Emerging diseases' adalah penyakit-penyakit yang dikenal, yang muncul kembali sesudah absen untuk waktu lama kejadiannya menurun. Dalam dua dekade terakhir ini ditemukan bahwa penyebab luka lambung kronis yang semula disangka disebabkan oleh stres atau diet, ternyata merupakan penyakit infeksi oleh bakteri Helicobacter pylori," katanya.

Dijelaskannya, "Re-Emerging diseases" dapat terjadi karena terbentuknya galur-galur baru pathogen bagi manusia karena variasi genetik alami, rekombinasi, adaptasi, yang tidak dikenal oleh sistem imun tubuh misalnya Influenza.

"Penggunaan yang salah dari obat antimikroba dan pestisida juga merupakan penyebab timbulnya pathogen tahan obat, seperti pada banyak penyakit (tuberculosis, malaria, dan 'food-borne infections')," katanya.

Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan mahasiswa berprestasi tingkat IPB yang pada saat ini diraih oleh mahasiswa FKH atas nama Dordia Anindita Rotiusulu. (man)