Diskusi Kenaikan Harga BBM dan Pencapaian MDG’s di IPB

Diskusi Kenaikan Harga BBM dan Pencapaian MDG’s di IPB

Berita

 

South East Asia Food And Agriculture Science Technology (SEAFAST) Center Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Pertanian Bogor (LPPM-IPB) bekerjasama dengan Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia dan  Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian menggelar Focus Groups Disscusions (FGD) bertajuk "Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Pencapaian Millenium Development Goals", Rabu (4/6) di Ruang Diskusi SEAFAST  Center Kampus IPB Darmaga.

 

"Kenaikan harga BBM dan harga-harga lainnya mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia (Indeks Pembangunan Manusia/IPM). Sebab, kenaikan harga ini menurunkan indek harapan hidup, indek pendapatan sehingga jumlah orang yang berusia panjang dan  sehat, akses pengetahuan serta kehidupan yang layak akan turun," ungkap Wakil Rektor Bidang Sumberdaya dan Pengembangan, Dr.Ir.H. Hermanto Siregar, M.Si.

 

Lebih lanjut Dr. Hermanto mengatakan seharusnya pemerintah mengembangkan energi alternatif  sejak rezim-rezim pemerintahan terdahulu. "Perlu akselerasi kebijakan revitalisasi pertanian, meningkatkan daya beli masyarakat dengan berbagai program padat karya, perbaikan dan pengembangan infrastruktur, fasilitas pendidikan dan kesehatan dasar. Disamping pengembangan rural electrification skala lokal, termasuk micro-hydro power, dan stabilsasi harga pangan. Pemerintah hendaknya memfokuskan  pembangunan untuk mencapai dan mempertahankan ketahanan pangan, energi serta financial," urai Dr. Hermanto.

 

Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Prof. Deddy Muchtadi menambahkan agar kualitas sumber daya manusia Indonesia tidak semakin tertinggal, pemerintah harus membuat kebijakan yang menjamin setiap warga memiliki akses sama atas pendidikan. "Akses pendidikan yang semakin baik perlu ditunjang oleh kinerja kesehatan dan gizi yang cukup, sehingga anak-anak usia sekolah dapat memaksimalkan potensi dirinya untuk menjadi pribadi-pribadi cerdas dan berkualitas," tandas Prof. Deddy. Lalu Prof. Deddy juga mengungkapkan keprihatinannya  terhadap kebijakan pemerintah terkait rendahnya alokasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk sektor pendidikan  yang hanya sekitar 12 persen. " Ini menunjukkan belum adanya perhatian pemerintah pusat terhadap perbaikan kualitas sumberdaya manusia."

 

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, Prof. Ali Khomsan menyatakan gembira  Depdiknas kini mulai berpikir pentingnya mencetak generasi unggul melalui PAUD (Pengembangan Anak Usia Dini).  "Pelaksanaan PAUD merupakan investasi SDM yang akan berdampak positip bagi SDM."  Salah satu kelemahan dari penyelenggara negara adalah terlalu cepat menginginkan dampak investasi yang dilakukan.  Kalau dalam waktu 3-5 tahun tidak kelihatan dampaknya, maka program peningkatan kualitas SDM, sebenarnya sudah dirancang dengan penuh pertimbangan akhirnya dibubarkan begitu saja. 

 

"PAUD yang mempunyai komitmen kuat terhadap peningkatan kualitas SDM harus terus-menerus diprogramkan oleh pemerintah pusat. Jangan buru-buru menyerahkan urusan SDM yang satu ini kepada pemerintah daerah kabupaten dan jangan pula langsung diswadayakan," tegas Prof. Khomsan.

 

Sebab, pada dasarnya pemda kabupaten ataupun masyarakat belum mampu untuk menjalankan program ini secara ideal.  Oleh sebab itu pemerintah pusat harus mengambil tanggung jawab besar ini untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

 

 

Hadir pembicara lain dalam kesempatan tersebut antara lain Ketua Departemen Gizi Masyarakat IPB,  Dr. Ir. Evy Damayanthi, MS, Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Dr. Dahrul Syah, dan Prof. Herman Sudirman dari PusLitbang Gizi dan Makanan Departemen Kesehatan. Sebelum diskusi dimulai, Direktur SEAFAST IPB, Dr.Purwiyatno Hariyadi dan Kepala LPPM IPB, Prof. Bambang Pramudya berkesempatan memberikan sambutan. (ris)