Sistem Jaminan Halal Sebagai Senjata Ampuh
Organisasi perdagangan dunia atau world trade organization (WTO) dinilai lebih berorientasi pada perdagangan liberal dan kapitalis sehingga menimbulkan ketidakadilan. " Perdagangan liberal mendorong yang kuat mengalahkan yang lemah. Sedangkan perdagngan kapitalis mendorong pemiliki modal besar menguasai pasar," kata Kepala Bidang Sosialisasim Pelatihan dan Kerjasama Lembaga Pengawawsan Pangan dan Obatan-obatan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia, Nur Wahid dalam Training, Expor dan Seminar Pangan 'Getting Rich Through The Natural Resources' Minggu (25/11) di Gedung Graha Widya Wisuda Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga. Acara ini diselenggarakan oleh Mahasiswa Diploma Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan, Analisis Kimia, Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi dan Badan Eskutif Mahasiswa Diploma IPB.
Perdagangan bebas dunia juga memunculkan standar mutu yang tidak memihak. Standar mutu terlalu tinggi diberlakukan negara-negara maju sehingga sulit dikejar oleh produk negara berkembang. Jika negara berkembang bisa mencapai standar mutu produk yang ditetapkan, keluar standar mutu terbaru yang sulit dipenuhi. "Kalau pun standarnya fair negara kita tetap saja kalah, sebab ada intervensi politik perdagangan yang mengakibatkan Indonesia tidak bisa memproteksi pertaniannya dan kurang bisa bersaing dengan negara lain," ujar Wahid.
Menurut Wahid, Indonesia masih memiliki peluang jangka pendek untuk memproteksi produk-produk impor yang mematikan pasar lokal. WTO mengakui isu perdagangan berdasarkan budaya setempat. "Kita bisa menggunakan sistem jaminan mutu halal sebagai senjata ampuh menahan laju ketergantungan produk impor seperti kasus daging sapi dan paha ayam." Isu halal juga bisa melindungi masyarakat dari produk haram, melindungi produsen dari persaingan global dan menjadi barier non tarif yang cukup efektf.. Indonesia bisa menetapkan standar halal meliputi:persyaratan yang ketat, sistem jaminan halal, peranan internal halal auditor, dan peranan inspektor halal.
Strategi internal jangka panjang bisa ditempuh dengan melakukan perubahan paradigma berpikir, peningkatan kualitas sumberdaya alam, strategi riset terpadu, pembangunan pertanian terpadu dan zoning serta focus. " Indonesia juga perlu melakukan diplomasi eksternal untuk memperjuangkan uji objektif, kerjasama antar negara berkembang disamping mempertahankan klasul budaya dan agama yang menguntungkan," tandang Wahid.
Pembicara lain, Staf Pengajar Departement Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB, Dr. Desta Wirnas memaparkan ketahanan dan diversifikasi pangan. "Ketahanan pangan mencakup tiga aspek antara lain: ketersediaan, stabilitas dan keterjangkauan pangan." Masyarakat bisa berpartisipasi dalam ketahanan pangan melalui pelaksanaan produksi, perdagangan dan distribusi pangan.
Acara ini ditutup dengan training Getting Rich Through The Natural Resources dari Chief JNA inspiration & ide, Samsul Arifin. Sekitar seribu peserta tampak bersemangat mengikuti training ini. (ris)
