IPB Usulkan 4 Strategi Dasar Percepatan Pendidikan Konservasi

IPB Usulkan 4 Strategi Dasar Percepatan Pendidikan Konservasi

Berita

Departemen Konservasi dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB) mengusulkan empat strategi dasar percepatan pendidikan konservasi di Indonesia. Usulan tersebut disampaikan Ketua Kelompok Kerja Pendidikan Konservasi Sumber Daya Hayati dan Lingkungan Departemen Konservasi dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB, Prof. Dr. E.K.S. Harini Muntasib dalam Lokakarya Pendidikan Konservasi bertajuk 'Mewujudkan Masyarakat Pro-Konservasi' Selasa (20/11) di Auditorium Rektorat Kampus IPB Darmaga. Acara ini dalam rangka memperingati ulang tahun Departemen Konservasi dan Ekowisata yang ke-25.

Empat usulan tadi antara lain: 1) Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan konservasi atau lingkungan, 2) Pemerataan kesempatan mendapatkan akses informasi terpecaya dan akurat, 3) Koordinatif, dan 4) Efesiensi pengelolaan pendidikan konservasi. "Pemberian pendidikan konservasi mestinya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat ataupun institusi yang memerlukannya," ujar Harini.

Menurut Harini, semua institusi formal dan non formal berhak memperoleh akses informasi tentang perkembangan pendidikan konservasi di Indonesia. Kondisi ini memungkinkan pemerintah khususnya Kementrian Lingkungan Hidup mempunyai tugas untuk menyiapkan suatu Balai Kliring atau semacamnya yang selalu memonitor perkembangan pendidikan konservasi di Indonesia. "Hal itu sekaligus sebagai bentuk evaluasi pelaksanaan pendidikan konservasi yang ada baik pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat (nasional maupun asing)," tandas Harini.

Terpenting pula dalam pendidikan konservasi adalah koordinasi seluruh pihak. Perlu dikembangkan sistem dan kelembagaan secara terencana dan terpadu. Pelaksanaan koordinasi tidak harus dilakukan sendiri oleh pemerintah, tetapi bisa bermitra dengan pihak lain misal perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat atau pun swasta. Koordinasi ini penting agar pengelolaan pendidikan konservasi berjalan efesien. "Agar tidak terjadi tumpang tindih kegiatan, pengulangan kegiatan serta ego struktural dalam pelaksanakan pendidikan konservasi."

Acara yang dibuka Wakil Rektor IV, Dr. Asep Saefudin ini menghadirkan pembicara antara lain: Dr. Bun M Purnama (mewakili Menteri Kehutanan), Dra. Nurmayati, M.Si (Deputi Bidang peningkatan Konservasi Sumberdaya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementrian Negera Lingkungan Hidup), Dr.Abdul Haris (Staf Ahli Irjen Menteri Pendidikan Nasional Manajemen Dasar dan Menengah), Dr. I Made Sudadya (Direktur Jenderal Hutan dan Konservasi Alam-Departemen Kehutanan), Dr. Dr.Ir. Rinekso Soekmadi MS.c.F (Direktur RARE), dan Dr. Latipah (Hendarti (RMI-the Indonesian Institute for Forest and Environment). Dalam sambutannya Asep menyampaikan harapannya bahwa suatu saat kelak IPB memiliki kumpulan spesies tumbuhan seluruh nusantara. "Sayangnya sebelum impian itu terwujud sebulan saya lagi saya tak lagi menjabat Wakil Rektor IPB," selorohnya diiringi tawa hadirin. (ris).