“Dialog Kepemimpinan, Revitalisasi Pertanian dan Peradaban” bersama Yusuf Sutanto
Dalam khasanah cerita sufi, dituturkan pada suatu hari ada seorang pemuda terpelajar mengamati syekh tua yang sedang menanam pohon kurma dengan keringat bercucuran. Kemudian ia menghampiri dan bertanya, "Pak Tua, untuk apa melakukan pekerjaan sia-sia menanam kurma. Apakah masih sempat menikmati buahnya yang pertama?" tanya si pemuda. Syekh itu sambil meneruskan pekerjaannya menjawab singkat, "Apakah yang kamu makan adalah hasil yang kau tanam sendiri ?"
Demikian penggalan cerita dari Bapak Yusuf Sutanto dalam acara bedah buku dan dialog "Kepemimpinan, revitalisasi pertanian dan peradaban" di hadapan para aktivis mahasiswa IPB, Rabu (7/11) bertempat di Wisma Tamu IPB Kampus IPB Darmaga. Yusuf Sutanto adalah seorang pengusaha sukses negeri ini, yakni salah seorang Direksi dari PT. Indofood, namun lebih senang memperkenalkan diri sebagai seorang Bapak dari dua orang anak
"Apabila di Indonesia, pemuda tersebut mungkin adalah lulusan Fakultas Pertanian dan telah mengikuti program Agribisnis. Mungkin ia akan terperanjat mendengar jawaban syekh tua tadi. Dan tanpa sepatah kata pun mungkin ia akan ngeloyor pergi, karena ia merasa dirinya tahu umur tanaman dan asas manfaatnya," lanjut Yusuf menerangkan, seraya menegaskan hidup ini memang kita terima dari generasi pendahulu dan kalau kita lacak terus sampai ke hulu, maka kita akan bertemu dengan Sang Pencipta Sumber Kehidupan, itulah Kepemimpinan.
Acara yang digagas Direktorat Kemahasiswaan IPB ini berlangsung meriah dan dalam suasana akrab. Tampak hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Direktur Kemahasiswaan IPB Dr. Rimbawan, Kepala Program Internasional IPB Dr. Ma'mun Sarma, Kepala Kantor Prohumasi IPB drh. Agus Lelana, SpMP,M.Si, dan Kepala Bidang Minat, Bakat dan Penalaran Direktorat Kemahasiswaan IPB Bambang Riyanto, M.Si.
Kepala Bidang Minat, Bakat dan Penalaran Direktorat Kemahasiswaan IPB Bambang Riyanto, M.Si, kepada Pariwara menuturkan, selalu menarik apa yang disampaikan oleh Yusuf Sutanto. Pria kelahiran tahun 1945 di Pekalongan ini, kata Bambang, juga dikenal sebagai pemrakarsa berbagai seminar pemikiran, seperti Fritjof Capra salah seorang ahli fisika kuantum yang mengkaji tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan kearifan timur, serta Editor dan kontributor buku "Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban".
Cerita Yusuf Sutanto lain yang juga membuat hadirin terkesima adalah tentang seorang tawanan yang dihukum penjara seumur hidup dan merasa frustasi karena didiamkan begitu saja tanpa diberi tugas untuk bekerja. Pada suatu hari ia diminta untuk menjalankan tugas besar yang sangat menantang, yaitu harus menghancurkan gunung, lalu tanahnya dipindahkan ke suatu tempat. Setelah gunung itu rata, ia diminta mengembalikan ke tempat semula. Sesudah itu, tawanan tersebut bunuh diri. Semula dia berpikir telah melakukan sesuatu yang berguna untuk pembangunan, tetapi mengangkutnya kembali, itulah yang membuatnya kecewa.
Melalui cerita-cerita tersebut, Yusuf Sutanto menyampaikan gambaran bahwa betapa misteriusnya manusia. Maka apabila kita mau membangun manusia, kita perlu mempelajari dan memecahkan rahasia ini. Kita tidak bisa begitu saja menyederhanakan manusia seolah-olah hidupnya digantungkan semata-mata pada kekuasaan yang berada di luar segalanya. Melimpahnya sumberdaya alam memang penting. Namun kalau kita tidak berhasil membangun manusianya, maka seperti terbukti selama ini, semua kekayaan itu tidak bisa diolah sendiri untuk kepentingan bersama, kecuali hanya dijual ke luar negeri atau mendatangkan investor dari luar untuk mengolah di dalam negeri.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, Yusuf Sutanto menyampaikan bahwa dunia ilmu pengetahuan dipenuhi dengan penemuan yang selalu diperbaharui dari masa ke masa. Tumbuh berkat adanya keterbukaan dan disiplin yang ketat dalam mengikuti prosedur tertentu untuk menguji validitas yang sudah atau akan ditemukan, demi menemukan yang baru dan diharapkan tentunya lebih baik lagi dari sebelumnya.
"Dalam dunia yang semakin terkait sekarang ini mustahil kita bisa membangun bersama masa depan tanpa kehadiran ilmu pengetahuan. Banyak ilmuan memperlakukan ilmu yang dipelajarinya sebatas penggunaannya seperti sebuah pisau untuk memotong lalu membahas hasil potongannya. Kita tidak pernah atau jarang diajak menelisik ke arah hulu, mempertanyakan pisaunya dibuat dari bahan apa, dan proses membuatnya bagaimana, serta siapa yang membuatnya. Atau kalau kita mengandalkan hanya logika kita akan menghasilkan ilmuan seperti orang buta memegang gajah. Masing-masing mendeskripsikan gajah sesuai dengan apa yang dipegangnya saja. Barangkali disinilah letak penyebabnya mengapa ilmu pengetahuan semakin maju, tetapi kehidupan bersama kok malah bertambah buruk saja,". (nm/ditmawa)
