Bakal Tanaman Nilam Hasil Iradiasi Sinar Gama

Bakal Tanaman Nilam Hasil Iradiasi Sinar Gama

Berita

  Indonesia, negara pemasok 90 persen kebutuhan minyak atsiri nilam dunia. Umumnya minyak nilam berasal dari tiga jenis tanaman yaitu nilam aceh (Pogostemom cablin Benth), nilam jawa (P.hortensis Backer) dan nilam kambang atau sabun (P.heyneanus).  Nilam aceh paling banyak dibudidayakan petani karena hasil minyak atsirinya  tinggi (lebih dari 2.5 persen). Kekurangannya, tanaman ini sangat peka terhadap kekeringan.  Kekeringan  bisa menurunkan produksi nilam. Hingga kini belum ada klon yang relatif toleran cekaman. ”Masalah yang dihadapi dalam perbaikan klon atau populasi nilam adalah rendahnya variabilitas (keragaman) genetik,” ujar  Mahasiswa S3 Program Studi Agronomi Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Kadir.  B elum ada informasi dan penelitian mengenai tanaman nilam toleran cekaman kekeringan. ”Tanaman nilam toleran terhadap  kekeringan dibutuhkan dalam upaya mengembangkan tanaman nilam pada lahan kering yang luasnya diperkirakan 55.619 juta hektar,” kat Abdul. Petani  umumnya membudidayakan nilam Aceh. Jenis ini tidak berbunga, sehingga menyempitkan keragaman genetik dan kesulitan pembentukan genotipe atau jenis baru.  Usaha memperoleh tanaman nilam baru, sesuai sifat yang diiginkan hanya bisa dilakukan melalui mutasi  seperti mutasi in vitro, penggunaan mutagen fisik (iradiasi sinar gamam atau fusi protoplast).    Hal inilah yang mendorong Abdul Kadir meneliti klon (calon) tanaman nilam dengan menggunakan  teknik iradiasi sinar gamma dan seleksi in vitro. Hasil penelitiannya menunjukkan iradiasi sinar gamma dan seleksi in vitro meningkatkan sifat toleransi tanaman nilam dari peka menjadi agak toleran. Namun Kadir tidak menemukan populasi somaklon dengan kriteria toleran.  ”Melalui analisis individu (nomor) somaklon, diperoleh 11 nomor dengan kriteria toleran dan terdapat 7 nomor somaklon yang mempunyai kadar minyak 3.27- 3.76 persen,” tutur Kadir. Populasi somaklon agak toleran (moderat) cekaman kekeringan meningkatkan kandungan prolin lebih tinggi dibandingkan somaklon yang peka. Nomor somaklon yang dikategorikan toleran dan moderat mempunyai rataan lebar, panjang  serta stomata lebih rendah dibandingkan nomor somaklon peka.  Penelitian Kadir dibawah komisi pembimbing antara lain Dr. Ir Surjono Hadi Sutjahjo, Prof.Dr. G.A. Wattimena, dan Dr.Ir.Ika Mariska.  (ris)