Ekspedisi UKM Lawalata IPB ke Nusa Penida
Sebanyak 16 mahasiswa IPB yang ingin bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lawalata IPB, mempresentasikan hasil ekspedisinya dari Pulau Nusa Penida, Bali di hadapan para seniornya, (22/8), di Gedung Amarilis IPB.
"Ekspedisi yang berlangsung selama tiga minggu ini merupakan prasyarat untuk menjadi anggota UKM Lawalata. Prasyaratnya sendiri ada dua tahap, yakni tahap pertama ekspedisi kecil yang waktu itu kami lakukan di Gunung Salak, dimana materinya adalah mengenai segala kegiatan yang berhubungan dengan pecinta alam. Dan ekspedisi kami sekarang ke Nusa Penida ini merupakan studi lapang akhir," tutur salah satu peserta ekspedisi.
Selama di lokasi, tim melakukan pengamatan terhadap pelestarian Burung Jalak Bali (Curik Bali) yang sedang dilepasliarkan di Nusa Penida. Burung Jalak Bali ini merupakan salah satu satwa yang berada pada posisi ring I yaitu, satwa yang dilindungi di Taman Nasional Bali Barat. Maka, untuk mencegah kepunahan burung ini, dilakukan penangkaran dan kini dilepasliarkan agar dapat beradaptasi dan berkembang biak.
Menurut Ketua Tim, Miftah Ayatusurur, pengamatan yang mereka lakukan di empat titik di Desa Ped Kecamatan Nusa Penida ini berhasil menyimpulkan bahwa Jarak Bali di Nusa Penida dapat ditemukan di desa Ped dan Batu Madeg, habitat Jalak Bali di Desa Ped berupa kebun kelapa, ladang dan semak, dan sebagian besar masyarakat mendukung adanya pelepasliaran dengan harapan Nusa Penida dapat menjadi Taman Burung.
Lawalata-IPB sendiri merupakan salah satu organisasi pecinta alam tingkat IPB yang berdiri sejak 21 September 1974. Lawalata selama tiga dasawarsa lebih memfokuskan kegiatannya pada kegiatan ilmiah alam bebas. Dan kegiatan studi lapang seperti ini merupakan salah satunya. Studi lapang ini dimaksudkan agar menjadi tempat belajar bagi anggotanya untuk memahami esensi konservasi dan berupaya agar bisa turut serta dalam usaha pelestarian keragaman hayati di Indonesia.(zul/nUr)
