Seminar Memacu Pertumbuhan Usaha Kecil Menengah (UKM)
Ada beberapa tips bagi para pemula yang ingin membuka usaha atau terjun ke dunia bisnis. Tentunya tidak langsung sukses dan menuai untung dalam sekali jalan. Namun, rintangan dan hambatan harus dilalui, bahkan jatuh bangun adalah hal yang biasa. Ini adalah kilasan dari Seminar bertajuk "Memacu Pertumbuhan Usaha Kecil Menengah (UKM): Menanam Karya Menuai Kesempurnaan", yang diselenggarakan atas kerjasama Dji Sam Soe – Sentra UKM, PT. Tempo Tbk., dan Kantor Jasa Ketenagakerjaan (KJK) IPB, Selasa (24/7), di Gedung Alumni, Bogor.
Hadir sebagai narasumber, Kepala Pusat Penelitian dan Pemberdayaan Kewirausahaan (P3K) IPB, Prof. Hadikarya K. Purwadaria; Manajer Promosi dan Pemasaran PT. Tempo Tbk., Hari Nugroho, pelaku bisnis yang bergerak dalam restoran makanan, Bimade, serta Ade S. dari Lembaga Kerjasama Indonesia dan Swiss, yang menangani pendampingan UKM di Indonesia.
Prof. Hadikarya dalam paparannya mengatakan, strategi awal dalam mengembangkan usaha diantarannya adalah dengan berani menjajal ide-ide baru, tekun, hemat, dan jujur. "Dari ide tersebut kita harus bisa mengembangkan pola piker agar usaha yang kita jalani itu bisa berkembang dan survival, yaitu dengan sentuhan teknologi, serta menajemen yang baik," ujarnya.
Lebih lanjut dicontohkannya, beberapa perusahaan besar di Indonesia yang awalnya adalah UKM dan berasal dari dapur rumah, Namur kemudian bisa berkembang dengan luar biasa. "Pertama, asinan Bogor. Pemilik asinan yang berada di Gedong Dalam itu awlnya adalah penjaja buah pepaya segar ke tiap-tiap rumah, kemudian ia menyediakan meja di depan rumahnya untuk berjulan asinan, dan menyewa kios lima tahun, kemudian usahanya berkembang pesat hingga sekarang dan mereka melakukan layanan cepat saji pertama di Indonesia," jelasnya.
"Selain itu, ada Teh Botol Sosro. Pengalamannya sama dengan asinan Gedong Dalam, malahan pelaku usaha Teh Botol Sosro ini lebih pahit," ujarnya. "de minuman teh botol yang dilakukan sepasang suami istri itu kerap menemui hambatan. Diantaranya, berawal ketika mereka datang ke beberapa perguruan tinggi dengan harapan usahanya itu dibantu dengan teknologi yang diciptakan oleh pihak perguruan tinggi. Namun keinginan mereka untuk berkembang kembali terbentur," tandas Prof. Hadikarya. "Malahan apa yang ditawarkan malah berujung kritikan. Para mahasiswa tersebut kembali bertanya kepada sepasang suami istri itu. Mana mungkin usaha minuman teh botol bisa menggaji kita," katanya. "Namun, sampai sekarang usaha minuman teh botol tersebut bisa survival dan berkembang dengan cepat dan besar, " ujarnya mantap. (man/nUr)
