Sekitar 75,7 Persen Kemiskinan Terdapat di Pedesaan
Di negara-negara berkembang, kemiskinan umumnya suatu fenomena di pedesaan. Di Indonesia, sekitar 75,7 persen kemiskinan terdapat di pedesaaan. Hal ini diungkap Mahasiswa S3 Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Harniati dalam ujian sidang terbukanya bertajuk ‘Tipologi Kemiskinan dan Kerentanan Berbasis Agroekosistem dan Implikasinya pada Kebijakan Pengurangan Kemiskinan' Senin (18/6) di Kampus IPB Darmaga. "Berdasarkan data Badan Pusat tahun 2007, jumlah penduduk miskin Indonesia tahun 2006 mencapai sekitar 39,05 juta atau sekitar 17,75 persen dari jumlah penduduk Indonesia," kata Harniati.
Secara geografis, penduduk yang tinggal di bagian timur Indonesia, yakni Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara menunjukkan presentase penduduk miskin lebih tinggi dibanding penduduk di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.
Sebagian penduduk yang tidak tergolong miskin namun rentan jatuh pada golongan miskin. Peningkatan insiden kemiskinan menunjukkan angka yang tinggi pada masa krisis yakni 11.3 % pada tahun 1996 menjadi 24.2 % pada tahun 1998. " Hal ini menggambarkan sebagian masyarakat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak perekonomian,"ujar Harniati.
Fenomena kemiskinan pedesaan dan pertanian menunjukkan adanya kaitan antara faktor spasial dan sektor usaha mayoritas penduduknya. Terdapat hubungan erat antara kerentanan penduduk terhadap kemiskinan dengan ekosistem dimana ia tinggal. "Kemiskinan di Indonesia mencorakkan keragaman agroekosistem," jelas Harniati. Definisi agroekosistem ialah sistem interaksi antara manusia dan lingkungan biofisik sumberdaya pedesaan dan pertanian guna memungkinkan kelangsungan hidup penduduknya.
Tingkat kemiskinan berbeda antar agroekosistem. Kemiskinan tertinggi terjadi penduduk yang tinggal di hutan. Indeks keparahan kemiskinan penduduk yang tinggal di hutan tertinggi, jauh di atas rata-rata nasional. Tingkat kemiskinan penduduk di agroekosistem dataran tinggi, lahan basah dan lahan kering serta pantai/pesisir dibawah angka kemiskinan nasional. Namun, jumlah rumah tangga miskin di lahan kering dan di dataran tinggi jauh lebih besar daripada di lahan basah dan di pesisir.
Harniati lalu melanjutkan penjelasannya. Secara umum, proporsi terbesar pengeluaran rumah tangga keluarga miskin di semua agroekosistem untuk makanan. Prosentasenya berkisar antara 50-70 persen. "Merujuk pada hasil penelitian mengenai tipologi kemiskinan di masing-masing agroekosistem , maka saya menyarankan agar penanggulangan kemiskinan tidak bisa lagi menggunakan suatu pola umum (one fits for all) tetapi perlu mengembangkan berbagai model yang sesuai spesifik sesuai karakteristik kemiskinan di berbagai agroekosistem," urai Sekretaris Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian Departemen Pertanian ini.
Penelitian ini dibawah bimbingan komisi pembimbing yang beranggotakan Dominicus Savio Priyarsono PhD, Prof.Dr.Kuntjoro dan Dr.Ir.Rina Oktaviani, MS. (ris)
