IPB University Turunkan Tim Tanggap Bencana, Hadirkan Inovasi 18.000 Bungkus Nasi Steril Siap Makan

IPB University Turunkan Tim Tanggap Bencana, Hadirkan Inovasi 18.000 Bungkus Nasi Steril Siap Makan

ipb-university-turunkan-tim-tanggap-bencana-hadirkan-inovasi-18-000-bungkus-nasi-steril-siap-makan
Berita / Pengabdian Masyarakat

IPB University kembali menegaskan perannya dalam aksi kemanusiaan dengan menurunkan Tim Relawan Tanggap Bencana ke tiga provinsi terdampak, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kehadiran tim ini ditujukan untuk membantu masyarakat terdampak sekaligus membawa inovasi pangan darurat berupa nasi steril siap makan yang praktis dan bergizi.

Pelepasan tim relawan dilaksanakan di Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB University, Bogor, Jumat (20/12). Tim ini terdiri atas 18 dosen dan 25 mahasiswa lintas disiplin yang dikoordinasikan oleh Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim (DPMA) IPB University.

Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, menegaskan bahwa keterlibatan perguruan tinggi dalam penanganan bencana merupakan bagian dari tanggung jawab sosial yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan inovasi.

“Penugasan Tim Relawan Tanggap Bencana IPB ini merupakan wujud kepedulian kami terhadap masyarakat yang terdampak bencana di Sumatra. IPB hadir tidak hanya untuk menyalurkan bantuan, tetapi juga menawarkan solusi berbasis inovasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa program pengabdian masyarakat tanggap darurat bencana ini merupakan hasil kerja sama IPB University dengan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset dan Teknologi. 

Program tersebut dirancang secara komprehensif melalui empat pilar utama. Pertama, pelatihan dan penyediaan sebanyak 18.000 bungkus pangan steril siap makan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat terdampak. Produk pangan ini dapat langsung dikonsumsi tanpa memerlukan air bersih maupun proses pemanasan, sehingga sangat relevan dalam kondisi darurat.

“Dalam situasi bencana, akses terhadap air bersih dan sarana memasak sering kali terbatas. Karena itu, inovasi pangan yang siap konsumsi menjadi sangat krusial,” jelasnya.

Pilar kedua mencakup pelayanan kesehatan terpadu, meliputi layanan kesehatan dasar berbasis herbal dan komplementer seperti akupuntur dan akupresur. Selain itu, disediakan pula dukungan telemedisin yang melibatkan tenaga kesehatan serta kader rehabilitasi bencana.

Pilar ketiga difokuskan pada penyaluran 13.500 paket pangan khusus balita. Program ini bertujuan untuk mencegah malnutrisi, meningkatkan asupan gizi, serta menjaga kesehatan kelompok usia rentan selama masa tanggap darurat bencana.

Sementara itu, pilar keempat diarahkan pada pendampingan psikososial pascabencana. Pendampingan ini diharapkan mampu membantu pemulihan ketahanan mental masyarakat, mengurangi stres akut, serta memperkuat stabilitas sosial di wilayah terdampak.

“Melalui empat pilar ini, IPB tidak hanya memberikan bantuan logistik, tetapi juga melakukan transfer pengetahuan kepada perguruan tinggi posko dan relawan setempat. Harapannya, program ini dapat dilanjutkan secara mandiri sehingga keberlanjutan inovasi penanganan bencana tetap terjaga,” tambahnya.

Direktur Pengembangan Masyarakat Agromaritim IPB University, Dr Handian Purwawangsa menambahkan, inovasi nasi steril siap makan menjadi salah satu solusi unggulan dalam penanganan pangan darurat karena sifatnya yang praktis dan tahan lama.

“Nasi steril siap makan ini dapat langsung dikonsumsi tanpa dimasak atau dipanaskan, memiliki daya simpan hingga dua tahun, dan cita rasanya disesuaikan dengan selera masyarakat Indonesia,” jelas Dr Handian.

Menurutnya, bahan baku nasi steril relatif mudah diperoleh sehingga memungkinkan untuk direplikasi di berbagai daerah rawan bencana. Produk ini tersedia dalam berbagai varian menu, seperti nasi liwet, nasi kuning, nasi ayam jeruk purut, nasi uduk, hingga nasi goreng. Seluruhnya dikemas dalam pouch berukuran 150–200 gram atau setara satu porsi makan orang dewasa, sehingga mudah dimobilisasi dan siap dikonsumsi di lapangan.

Penyaluran bantuan dan inovasi teknologi tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi posko setempat, yakni Universitas Syiah Kuala (USK), Universitas Sumatera Utara (USU), serta Universitas Andalas (Unand).

Melalui kolaborasi ini, IPB University berharap dapat berkontribusi tidak hanya dalam penanganan darurat bencana, tetapi juga dalam memperkuat kapasitas institusi lokal dan masyarakat agar semakin siap dan tangguh dalam menghadapi bencana di masa mendatang. (AS)