Prof I Wayan Budiastra Kembangkan Teknologi Ini untuk Tingkatkan Daya Saing Pertanian di Pasar Ekspor
Panjangnya waktu uji laboratorium dan mahalnya biaya pemeriksaan mutu hasil produk pertanian sering menjadi kendala bagi petani dan eksportir dalam memenuhi standar pasar global.
Kini, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB University, Prof I Wayan Budiastra menawarkan jalan keluar dengan mengembangkan sejumlah teknologi yang lebih cepat dan kompetitif.
Selama lebih dari dua dekade, Prof Budiastra mengembangkan berbagai teknologi non-destruktif seperti Near Infrared Spectroscopy (NIR), teknologi ultrasonik, dan Electrical Impedance Spectroscopy (EIS).
“Inovasi ini muncul dari kebutuhan untuk memenuhi tuntutan mutu di pasar global, mempersingkat waktu proses analisis mutu produk, sekaligus mengurangi biaya dan penggunaan bahan kimia,” ujar Prof Budiastra saat Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University melalui kanal Zoom (18/9).
Selama ini, industri dan eksportir masih mengandalkan pemeriksaan mutu kimia secara sampling ke laboratorium yang memakan waktu lama, hingga 1–2 minggu. Biayanya mencapai Rp200.000–Rp500.000 per sampel.
“Pengembangan teknologi ini dirancang agar dapat diimplementasikan pada kelompok tani, koperasi, industri, maupun eksportir,” ucap Prof Budiastra.
Riset yang dilakukannya berfokus pada komoditas unggulan ekspor seperti mangga, manggis, kopi, pala, lada, dan kelapa sawit. NIR terbukti mampu memprediksi kandungan gula dan asam pada mangga, kadar kafein kopi, hingga kadar lemak sawit dengan tingkat akurasi tinggi.
Selain itu, ia mengembangkan alat portabel berbasis UV-VIS-NIR untuk menentukan kematangan buah sawit secara akurat di kebun. “Alat ini bisa mencapai akurasi 100 persen dengan bantuan kecerdasan buatan berbasis machine learning,” ujarnya.
Teknologi ultrasonik dan EIS juga menunjukkan potensi besar dalam memprediksi kualitas internal buah berkulit tebal, meski saat ini masih dalam tahap prototipe. Penelitian terbaru tengah mengkaji penerapan sensor untuk sortasi tandan buah segar pada industri crude palm oil (CPO).
Tak hanya itu, inovasinya terkait pengolahan hasil berbasis gelombang elektromagnetik seperti ultrasound assisted extraction (UAE) mampu mempercepat ekstraksi senyawa aktif hingga 24 kali lebih cepat. Adapun Greenhouse Effect (GHE) Dryer terbukti mempercepat curing vanili menjadi 12 hari dengan mutu terbaik.
Di akhir materinya, ia berharap inovasi ini mendapat perhatian dan dukungan kebijakan pemerintah agar teknologi tersebut dapat diproduksi massal dan diterapkan di lapangan. “Dengan penerapan teknologi ini, daya saing komoditas unggulan dapat meningkat, sekaligus mendongkrak pendapatan petani dan industri kecil,” pungkasnya. (dr)

