Prof Idat Galih Permana: Rekayasa Protein Pakan Lokal Jadi Strategi Tingkatkan Produksi Susu Nasional
Prof Idat Galih Permana, Guru Besar Fakultas Peternakan menegaskan bahwa penerapan rekayasa nutrisi presisi terbukti mampu meningkatkan produksi susu sekitar 15 persen serta memperbaiki kualitas susu, khususnya kandungan proteinnya.
Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University (30/8), ia menyampaikan bahwa dengan populasi sapi perah sekitar 485 ribu ekor, produksi susu nasional saat ini masih stagnan. Akibatnya, lebih dari 80 persen kebutuhan bahan baku susu industri masih harus dipenuhi melalui impor.
“Rata-rata produksi sapi Friesian Holstein (FH) di Indonesia hanya 12–14 liter per ekor per hari, padahal potensi genetiknya bisa mencapai 20–25 liter. Jadi masalah utamanya bukan sekadar jumlah sapi, melainkan produktivitasnya,” ujar Prof Idat.
Ia menambahkan, kualitas pakan di daerah tropis menjadi penyebab rendahnya produktivitas. Kandungan serat kasar tinggi, protein rendah, serta cekaman panas menyebabkan sapi perah mengalami kekurangan nutrien. Survei di Pulau Jawa bahkan menunjukkan hampir 90 persen sapi perah tidak mendapat asupan energi, protein, maupun mineral yang cukup.
Di sisi lain, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat rata-rata konsumsi susu nasional hanya 16,5 liter per kapita per tahun, jauh di bawah Thailand (33 liter), Malaysia (50 liter), bahkan negara maju yang melampaui 100 liter.
“Kondisi ini membuat ketahanan pangan hewani kita rentan. Jika tidak segera diatasi, ketergantungan impor susu akan semakin besar,” tegas Prof Idat yang juga Dekan Fakultas Peternakan IPB University.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof Idat menawarkan pendekatan rekayasa nutrisi presisi yang menekankan efisiensi pemanfaatan pakan melalui tiga strategi utama.
Pertama, sinkronisasi nutrien dalam rumen, yaitu menyeimbangkan ketersediaan nitrogen dari protein dengan energi non-fiber karbohidrat agar mikroba rumen dapat bekerja optimal menghasilkan protein berkualitas.
Kedua, proteksi protein, yakni melindungi protein berkualitas tinggi agar tidak mudah terdegradasi di rumen. Metode ini bisa dilakukan melalui pemanasan terkontrol, perlakuan kimia, atau pemanfaatan tanin alami. “Dengan begitu, nitrogen tidak terbuang sia-sia dan bisa diserap di usus halus sebagai rumen undegradable protein (RUP),” ujarnya.
Ketiga, suplementasi presisi, yaitu pemberian paket nutrisi lengkap yang mempertimbangkan keseimbangan protein, karbohidrat, serta mineral penting seperti sulfur.
Menurutnya, kombinasi bahan pakan lokal juga menjadi kunci. Legum seperti indigofera, misalnya, memiliki protein tinggi tetapi cepat terdegradasi, sehingga perlu dikombinasikan dengan pakan lain agar pemanfaatan protein optimal.
“Jika diterapkan secara luas, strategi ini dapat meningkatkan produktivitas sapi perah di daerah tropis hingga sekitar 15 persen, mengurangi ketergantungan impor, dan menjadi tonggak kemandirian industri persusuan nasional,” pungkasnya. (Fj)
