BPKB Gagas Diskusi Kampus Berkelanjutan Melalui IPB Sustainability Forum

BPKB Gagas Diskusi Kampus Berkelanjutan Melalui IPB Sustainability Forum

bpkb-gagas-diskusi-kampus-berkelanjutan-melalui-ipb-sustainability-forum-news
Berita

IPB university melalui Badan Pengembangan Kampus Berkelanjutan (BPKB) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) IPB Sustainability Forum. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaring ide, konsep dan pemikiran terkait sustainable campus, terutama dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, yang akan diwadahi dalam bentuk IPB Sustainability Forum (ISF).

Kepala BPKB IPB University, Dr Ibnul Qayim mengatakan, untuk menunjang terlaksananya ISF ini memerlukan banyak masukan dari berbagai bidang. Menurutnya, banyak dari dosen IPB University menjadi garda terdepan dalam mengarusutamakan aksi keberlanjutan (sustainability) ini.

“BPKB inilah yang akan menjadi wahana untuk berbicara tentang isu sustainability dalam bentuk diskusi kelompok tematik isu. Mudah-mudahan sumbangan pemikiran dapat  memberikan manfaat bagi kita semua dan kita dapat merumuskan tindak lanjut pelaksanaanya,” ujarnya saat sambutan di IPB International Convention Center (IICC), Bogor (27/7).

Sementara itu, Wakil Kepala BPKB IPB University bidang Pengembangan Reputasi Kampus Berkelanjutan, Dr Rina Mardiana menyampaikan bahwa BPKB mempunyai tugas perencanaan dan pengembangan kampus berkelanjutan dalam meningkatkan reputasi dan mewujudkan sociotechnopreneur university sesuai rencana jangka panjang IPB University.  

“Dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, diperlukan pemberian arahan strategis dan desain pengembangan program kampus berkelanjutan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),” ucapnya.

Lebih lanjut, Dr Rina mengatakan bahwa reputasi mengacu pada persepsi, pendapat dan citra yang dimiliki seseorang, sebuah organisasi, produk atau merek di mata orang lain. Menurutnya, reputasi dapat dibangun melalui interaksi jangka panjang dengan orang dan lembaga multipihak seperti komunitas akademik, pelanggan, mitra bisnis dan masyarakat umum. 

“Untuk reputasi keberlanjutan dapat dibentuk dan dipengaruhi secara online melalui ulasan, peringkat, komentar dan diskusi di platform sosial dan situs web. Oleh karena itu, menjaga reputasi yang baik melalui komunikasi yang efektif, pengelolaan merek yang cermat dan aksi kolektif untuk keberlanjutan menjadi semakin penting dalam lingkungan yang saling terhubung secara digital,” ujarnya.

Dr Rina mengatakan bahwa regenerative governance adalah cara untuk memastikan keberlanjutan yang termanifestasi dalam setiap kebijakan, rencana pembangunan dan implementasi program. 

“Regenerative governance menunjukkan bahwa program kita tidak sekedar mengusung narasi sustainability tetapi kita sudah masuk dalam tataran filosofis yang mendalam. Maka dari itu, diperlukan sebuah ranah kebijakan dan pedoman yang hilirisasinya nanti ada pada aksi SDGs,” tuturnya. (dr/Rz)