Himasita IPB University Adakan Pelatihan Budidaya Maggot
Meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia diiringi peningkatan jumlah konsumsi pangan dan sampah organik dari konsumsi pangan. Pengolahan sampah organik saat ini masih cenderung pada pemanfaatan menjadi pupuk kompos. Di sisi lain, inovasi-inovasi pengolahan sampah organik mulai berkembang salah satunya ialah dengan memanfaatkan sampah organik untuk budidaya larva maggot. Melihat potensi dan guna memberikan wawasan kepada kaum muda tentang budidaya maggot, Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita) IPB University mengadakan pelatihan budidaya maggot. Pelatihan ini diadakan Minggu (13/10) di Plaza Harmoni Proteksi Tanaman.
“Pelatihan disampaikan oleh pemateri yang langsung terjun ke bidang budidaya maggot. Dalam pelatihan ini dilakukan demonstrasi praktik langsung bagaimana cara budidaya maggot. Diharapkan para peserta dapat menggali wawasan sebanyak mungkin tentang budidaya maggot serta dapat terinspirasi untuk menjadi penggerak pengolahan sampah organik dengan budidaya maggot,” jelas mahasiswa IPB yang juga ketua panitia pelatihan, Bobby Yasadhana.
Maggot merupakan larva dari Black Soldier Flys (BSF) atau dikenal dengan lalat tentara hitam. Tidak seperti lalat pada umumnya, lalat hitam BSF merupakan lalat yang dipilih untuk dibudidayakan karena bukan sebagai agen patogen atau penyakit. “Maggot inilah sesungguhnya protein yang tinggi bagi pakan dan agen pengurai sampah organik yang multi manfaat. Sampah-sampah dimakan oleh larva BSF menghasilkan kompos dan maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, ikan, dan burung,” demikian yang disampaikan Aminudi Amin dari PT Biomagg Indonesia.
Menurut Aminudi, Indonesia sangat potensial dalam kemajuan budidaya maggot, karena iklim di Indonesia sangat mendukung. Seharusnya budidaya maggot di Indonesia lebih maju dibandingkan negara lain seperti Korea di Jepang yang sudah memaksimalkan budidaya maggot hingga ke aplikasi kosmetik dan kecantikan.
Peserta yang hadir dalam kegiatan ini beragam, mulai dari mahasiswa IPB University, alumni, hingga masyarakat yang berkecimpung di bidang pertanian dan peternakan. Dalam pelatihan tersebut, juga dilakukan demonstrasi atau praktik bagaimana strategi budidaya maggot yang baik.
Antusias peserta pun cukup tinggi dengan aktif menanyakan bagaimana tantangan dalam budidaya maggot. “Budidaya ini memiliki potensi yang besar dengan banyak lembaga-lembaga yang tertarik untuk bekerjasama dengan kami, baik dalam hal pengolahan sampah organik, riset, hingga pengembangan ke depan. Tantangannya ialah bagian investasi awal yaitu gedung dan fasilitas, serta konsisten dan komitmen untuk mengumpulkan sampah organik dalam jumlah tertentu setiap hari,” jelas Amin, alumni Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB University.
Beberapa penelitian yang dikembangkan dari maggot ini ke depannya akan ada pengembangan maggot untuk bidang kesehatan dan kecantikan. Harapannya semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk mengembangkan budidaya maggot. Dengan berkembangnya budidaya maggot ini dapat meningkatkan reduksi sampah organik yang langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, dan menjadi solusi peningkatan nilai tambah dari produk limbah. (HA/ris)
